Tujuh KEBENARAN MUTLAK Al Quran
April 20th, 2008 by indraemcDoctor Verkuyl, Doctor Kraemer, Rifai Burhanuddin lupa, demikian pula dengan Pater Grunnen, bahwa ada tujuh kenyataan mutlak yang dipunyai oleh Islam, yang tidak dapat dibantah oleh siapapun juga. Ia tidak dapat dibantah oleh sejarah, ia juga tak dapat dibantah oleh Ilmu Pengetahuan, ia tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi, oleh iklim dan masa. Mereka, pendeta-pendeta dan pastor-pastor lupa, demikian pula sarjana-sarjana orientalis barat bahwa: 1. Qur'an dengan bahasanya yang tetap sepanjang masa dan sama dimana-mana telah sanggup menciptakan iklim keIslaman yang merata mutlak. Ia akan dimengerti di Amerika, demikian juga di Inggris. Bila ia dibacakan di Jepang, maka ia juga dipahami oleh orang-orang India dan Pakistan, dan bila ia dibaca di negeri Belanda, maka Mesir, Libya, Indonesia akan mengerti, setidak-tidaknya mengenali bahwa itulah ayat-ayat Al Qur'an. Qur'an tidak pernah dirubah bahasanya dan ini saja sudah dapat dijadikan pegangan, bahwa isinya authentik asli. Beda dengan Injil yang telah melalui sedemikian banyak terjemahan, sehingga keaslian kata-kata mungkin telah menyimpang dari maksud semula. Ia disalin dari bahasa Ibrani ke bahasa Gerika, lalu ke bahasa Latin, dari Latin oleh Marthen Luther pada tahun 1521 disalin ke bahasa Jerman. Dari Jerman disalin pula ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Indonesia, Jawa, Minang, Timor dst. Sambil menyalin, maka atas pertimbangan politik(?) sipenyalin menterjemahkannya pula menurut "situasi dan kondisi" setempat. Kita lihat misalnya, kalau didalam Injil bahasa Belanda dan Inggris syarat masuk surga adalah Door bidden en fasten atau by praying and fasting, maka didalam Injil bahasa Indonesia mereka mencukupkan hanya dengan doa, sedangkan fasting atau fasten atau puasanya dihilangkan. 2. Al-Qur'an tidak bertentangan dengan Ilmu pengetahuan. Bacalah theorie La Place & Chamberlin, bacalah theorie kejadian bumi, maka Chamberlin menyebutkan: Bahwa bumi kita ini ialah terjadi dari gumpalan-gumpalan kabut yang bergulung-gulung semakin lama semakin padat, sehingga berpijar, dan kemudian mati pijarnya, lalu tumbuhlah kehidupan. Lalu cobalah kita buka Al-Qur'an surat tertulislah disana theorie itu: "Dan ingatlah ketika Aku menciptakan bumi ini dari suatu hamparan yang lalu bergulung-gulung." Qur'an surat Nuh 14 menulis tentang adanya tingkatan-tingkatan kejadian dari manusia, surat Al An'am 97 memuat theorie Astronomi. Dalam surat-surat yang lain dimuat pula theorie perkawinan tanam-tanaman (botani). Qur'an tidak serupa dengan Perjanjian Lama yang menolak theorie Galileo Galilei, Islam tidak seperti Kristen yang telah begitu banyaknya membunuhi kaum cerdik pandai seperti Galileo Galilei, Johannis Heuss dan sebagainya. 3. Al-Qur'an tidak menentang fitrah manusia. Itulah sebabnya didalam Islam tidak diakuinya hukum Calibat atau pembujangan. Manusia dibuat laki-laki dan perempuan adalah untuk kawin, untuk mengembangkan keturunan. Maka itu ajaran Paulus yang mengatakan bahwa ada "lebih baik" laki-laki itu membujang seperti aku dan perempuan itu tidak kawin, ditentang oleh Islam. Bukankah monogami akhirnya melibatkan dunia Kristen dalam lembah pelacuran? Bukankah orang-orang Italia yang monogami itu akhirnya mempunyai juga istri-istri yang gelap? Dan bukankah Amerika, Swedia dll. akhirnya menjadi bejat akhlaknya sebab mempertahankan monogami? Maka dunia akhirnya menetapkan: Poligami adalah bijaksana. Poligami mencegah manusia daripada zinah dan pelacuran. Tidak heran bila surat An Nisa ayat 3 kemudian membolehkan orang untuk Poligami, yaitu poligami yang terbatas: 4. 4. Qur'an udak bertentangan dengan aqal dan fikiran manusia. Itulah sebabnya Islam sangat menghargai akal dan fikiran yang sehat. Kaidah Islam tidak dapat menerima doktrin "Tiga tetapi satu," sebab tiga tetapi satu bertentangan dengan ratio. Ummat Islam sama sekali tidak dapat memahami bagaimana Paus, seorang manusia, dapat menjabat Wakil Tuhan(Ficarius Filii Dei). Paus mewakili urusan Allah untuk dunia ini, memberikan amnesti, abolisi dan grasi atas ummat manusia yang berdosa dengan mandaat sepenuhnya dari Allah. Demikian pula, kalau kami yang tidak tahu menahu akan perbuatan Adam harus memikul dosa Adam. Dan akal lebih tidak bisa menerima lagi, kalau Allah yang pengasih penyayang itu akhirnya lalu menghukum mati anaknya sendiri demi menebus dosa Adam dan anak cucu Adam. Maka itulah Islam tidak mengakui dosa keturunan, juga tidak mengakui adanya "Sakramen pengakuan dosa" yang memanjakan manusia dan mengajar manusia untuk tidak bertanggung jawab itu. 5. Islam tidak bertentangan dengan sejarah. Islampun dengan sendirinya tidak mendustai sejarah. Putih hitamnya sejarah Islam, diakuinya dengan jujur. Ia, misalkan mengalami tragedi pahit seperti "Night of St. Bartolomeus" pastilah ia mengakui, dan ummatnya mengetahui. Islam selalu sesuai dengan situasi d.an kondisi, ia bukannya menyesuaikan diri, tetapi diri (dunia maksudnya) yang harus menyesuaikan dengannya. 6. Oleh sebab itulah maka Islam tetap bertahan. Ia selalu maju seirama dengan kemajuannya zaman. Empat belas abad sudah lamanya Islam tetap dalam suatu kesatuan syareat dan hakekat. Seribu empat ratus tahun lamanya hukum-hukumnya, undang-undangnya, shalat dan kiblatnya, puasa dan hajinya tetap berjalan. Ia tidak ambruk setelah ilmu pengetahuan lebih maju, ia juga tidak colaps menghadapi kebangkitan humanisme dan sosialisme. Adapun atau kalaupun dikatakan mundur, sebenarnya ialah ummat artinya orang-orangnya apakah itu person atau kelompok. Mengapakah ummatnya mundur? Sebab ia telah meninggalkan Qur'annya. Ia berbeda dengan ajaran atau hukum gereja Katolik yang selalu berubah-ubah boleh - tidak boleh dan sekarang boleh lagi kawin. Padahal soal kawin adalah soal keputusan Tuhan. Adalah keputusan Tuhan selalu berubah-ubah dan dapat ditentang oleh manusia? 7. Qur'an tak dapat disangkal ]agi, adalah pegangan hidup dan mati, dunia dan akhirat. Qur'an ternyata merupakan landasan idiil dan spirituil, landasan hidup di dunia dan di akhirat. Qur'an, tidak hanya memuat perkara akhirat saja, tetapi juga perkara dunia. Itulah sebabnya bila kita membaca Al-Qur'an kita akan menemui bermacam-macam hukum, apakah itu hukum pidana, perdata, atau hukum antar manusia dan kemasyarakatan. Demikian pula ia memuat hukum dengan lengkapnya hukum perkawinan dan sopan santun perang.
Tafsir Kitab Perjanjian Lama YESAYA tentang kebenaran Nabi MUHAMMAD SAW
April 20th, 2008 by indraemcSebelum kita membahasnya, mari sejenak kita renungkan terlebih dahulu
dua firman Allah yang terdapat didalam al-Qur’an akan pribadi Nabi
Muhammad Saw al-Amin.
"Orang-orang yang telah Kami beri Kitab
itu (khususnya Yahudi dan Nasrani), mengenalnya (yaitu mengenal
Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Tetapi ada
sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka
mengetahui." (QS. Al-Baqarah 2:146)
"Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya (khususnya Yahudi
dan Nasrani), yang merugikan diri sendiri itu, mengenalnya (Muhammad)
seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri." (QS. Al-An’am 6:20)
Nah, kita semua umat Islam, memiliki kewajiban untuk menyingkapkan
kebenaran yang telah disembunyikan oleh orang-orang fasik dalam
kalangan Yahudi dan Nasrani untuk kita beritakan kepada seluruh dunia,
agar mereka tersadar dan kembali kedalam kasih Tuhan yang sebenarnya,
yaitu melalui petunjuk sang Kalky Authar, Ruh Kebenaran yang
dijanjikan, Rasulullah Muhammad Saw.
Nabi Muhammad Saw al-Amin, dilahirkan pada hari Senin 12 Rabi’ul awal
tahun gajah atau bertepatan dengan tahun 570 Masehi. Terlahir dari Ibu
bernama Siti Aminah Binti Wahab dan ayahnya Abdullah Bin Abdul
Muthalib, keturunan Bani Ismail, putra Nabi besar Ibrahim as yang
dijanjikan oleh Allah, dan sekaligus merupakan kakak dari Nabi Ishak,
putra Nabi Ibrahim dari Siti Sarah yang menurunkan Nabi-nabi besar
untuk umat Israel.
Pada suatu malam tanggal 17 Ramadhan, bersamaan dengan 06 Agustus 610
Masehi 203 tahun 41 dari kelahirannya atau ketika usia manusia yang
mulia yang digelari orang sebagai al-Amin itu mencapai 40 tahun 6 bulan
8 hari (tahun Qamariyah/Bulan) atau berusia 39 tahun 3 bulan 8 hari
(tahun Syamsiah/Matahari), turunlah Malaikat Jibril kepadanya yang
sedang bertahanuts didalam Gua Hira untuk menyampaikan wahyu yang telah
ditetapkan oleh Tuhan, dan menyatakan Kalimah Allah bahwa pada malam
itu juga beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah, menjadi penerus
risalah para Nabi sebelumnya.
Dalam salah satu hadist yang menceritakan mengenai turunnya wahyu
kepada Nabi Muhammad Saw disebutkan, "Telah datang malaikat Jibril as
kepada Muhammad sambil berkata, "Bacalah!", dengan terkejut dan penuh
ketakutan Muhammad menjawab, "Aku tiada bisa membaca.", Ia berkata
lagi, "Bacalah!", Muhammad kembali menjawab, "Aku tiada bisa membaca",
lalu malaikat memegang tubuh Muhammad dan berseru kembali: "Bacalah !",
Muhammad menjawab : "Apa yang akan saya baca ?", kemudian malaikat
Jibril berkata:
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan.
Dia telah menjadikan manusia dari segumpal darah (’alaq)
Bacalah ! Karena Tuhanmu Yang Maha Mulia !
Yang mengajar dengan Qalam (ilmu pengetahuan)
Mengajar manusia apa yang tiada ia ketahui."
(al-Qur’an Surah Al-Alaq 96 ayat 1-5)
Kejadian Nabi Muhammad Saw mendapatkan wahyu ini telah ternubuat dalam Kitab Yesaya pasal 29:12 :
Dan kitab itu diberikan kepada seorang yang tiada tahu membaca dengan
mengatakan: "Bacalah ini," maka ia akan menjawab: "Aku tiada dapat
membaca."(Yesaya 29:12)
Dalam satu riwayat yang lain, ketika Nabi Muhammad pertama kali
mendapatkan wahyu dari Allah melalui perantaraan malaikat Jibril dalam
pengasingannya di Gua Hira, dimana pada waktu itu beliau mengadukan hal
ini pada istrinya, Khadijjah yang lantas oleh istri beliau ini
mengkonfirmasikan pula kepada saudara sepupunya yang sebagai seorang
penganut ajaran ‘Isa al-masih, Waroqah bin Naufal.
Disana diriwayatkan Waroqah bin Naufal menyatakan bahwa sesungguhnya
Muhammad telah menerima Namus besar sebagaimana yang pernah diterima
oleh Musa, dan dia merupakan seorang Nabi Allah.
Kata "Namus besar" (an-namus’l-akbar) oleh beberapa penulis
dijaman-jaman berikutnya diberi anotasi, bahwa kata namus berartikan
Jibril. Sementara salah seorang orientalis bernama Montagomey Watt
memberikan catatan bahwa kata namus ini diambil dari bahasa Yunani
yaitu "noms" yang berarti undang-undang atau kitab suci yang diwahyukan.
Waroqah bin Naufal sendiri mengimani akan kenabian Muhammad meski tidak
dalam waktu yang lama karena beliau wafat sebelum Muhammad memulai
seruannya kepada manusia sehingga mendapatkan tantangan, pengusiran,
penyiksaan hingga upaya pembunuhan. (Dikutip dari buku "Sejarah Hidup Muhammad" oleh Muhammad Husain Haekal)
Dipasalnya yang lain, yaitu pasal 42, Jesaya menubuatkan kedatangan laki-laki suci pilihan Tuhan ini sebagai berikut:
"Lihatlah, hamba-Ku yang Kupapah, pilihan-Ku, yang kepadanya Aku
berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan
hukum kepada orang-orang kafir. Ia tidak akan berteriak atau
menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang
patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya
tidak akan dipadamkannya, ia pun akan menyatakan hukum dengan
kebenaran. Ia sendiri tiada akan gagal dan tidak akan patah semangat,
sampai sudah tetapkannya hukum diatas bumi; segala pulau pun akan
mengharapkan pengajarannya." (ayat 1 s.d. 3 dari Jesaya 42)
Tafsirnya :
Bahwa Allah menyeru Muhammad selaku seorang hamba pilihan sebagaimana
juga dalam Surah al-Israa’ (17) ayat 1 Allah menyeru Nabi Muhammad Saw
dengan sebutan hamba dan al-Qur’an surah .al-Baqarah (2) ayat 143
sebagai pilihan-Nya dimana Allah berkenan kepadanya dalam pengertian
memutuskan untuk memilihnya selaku Rasul yang menyeru kebenaran
terhadap orang-orang kafir.
"Katakanlah: "Aku bukanlah Rasul yang
pertama di antara Rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan
diperbuat terhadapku dan tidak terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah
mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah
seorang pemberi peringatan yang memberi penjelasan".
(QS. al-Ahqaaf 46:9)
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya para Rasul."
(QS. Ali Imran 3:144)
Allah telah memilih Muhammad dan membimbingnya kejalan kebenaran yang
diinginkan oleh-Nya, menjauhinya dari segala bentuk peribadatan
jahiliyah, sejak kecil beliau telah disebut oleh masyarakatnya sebagai al-Amin (orang yang terpercaya, orang yang jujur, orang yang benar - dalam Bible disebut juga sebagai Ruh Kebenaran).
Allah telah mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim pada kitab Kejadian 17:18
agar Ismail sajalah yang hidup dihadapan-Nya. Dengan benih dari Ismail
ini Allah akan membersihkan nama-Nya, membesarkan agama-Nya,
melimpahkan karunia dan nikmat-Nya serta seluruh kerajaan-Nya
sebagaimana yang termaktub dalam Matius 21:43 dan Ulangan 32:21.
Sementara Jesus menurut anggapan orang Nasrani adalah anak Allah bahkan
Allah itu sendiri, dan mereka akan gusar apabila kita katakan bahwa
Jesus hanyalah seorang hamba sebagaimana hamba-hamba Allah yang lainnya.
Adapun Allah memberikan roh-Nya kepada sang hamba pilihan pada ayat
diatas adalah sama halnya seperti yang diberikan-Nya kepada seluruh
makhluk ciptaan-Nya sebagaimana terdapat didalam ayat ke-5 dari pasal
yang sama serta yang terdapat pada Kitab Yoel 2:28 :
"Maka kemudian daripada itu akan jadi, bahwa Aku mencurahkan roh-Ku kepada segala manusia."
(Yoel 2:28)
Dan seruan sang hamba pilihan terhadap orang-orang kafir adalah
menyeluruh tanpa dibatasi oleh tempat dan daerah, sesuai dengan misi
kenabian Muhammad Saw selaku Nabi yang universal.
Nabi Muhammad Saw tidak pernah berteriak didalam berdoa kepada Allah
dan juga tidak pernah menyaringkan suaranya didalam memberikan
pengajaran kepada umatnya, bahkan beliau melarang tegas perbuatan
semacam itu sebab hanya akan mengganggu/mengusik orang lain yang
mungkin sedang membutuhkan ketenangan atau konsentrasi terhadap sesuatu
hal lainnya, dan ini bersesuaian dengan ayat ke-2.
"Serulah Tuhanmu dengan berendah
diri dan dengan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas." (QS. 7:55)"Dan sebutlah Tuhanmu dalam hatimu dengan
merendahkan diri dan takut. Dan janganlah mengeraskan suara pada waktu
pagi dan petang." (QS. 7:205)"Dan sederhanalah kamu didalam berjalan serta rendahkanlah suaramu. Seburuk-buruknya suara adalah suara keledai." (QS. 31:19)
Dan beberapa ayat-ayat lainnya yang memiliki arti serupa sebagaimana
misalnya termaktub dalam al-Qur’an surah 49/2, 49/3 dan sebagainya.
Dalam nubuatan ini, sama sekali Jesus bukanlah tokoh yang tepat untuk
disertakan sebab dalam banyak pasal dan ayat Bible menceritakan betapa
Jesus berulangkali menyaringkan suaranya, baik ketika beliau berseru
kepada Allah maupun juga didalam pengajarannya kepada manusia.
Yohanes 7:28 :
"Maka berserulah Jesus dengan suara nyaring didalam Bait Allah ketika ia mengajar …"
Matius 27:46
"Kira-kira jam tiga berserulah Jesus dengan suara nyaring…"
Matius 27:50
"Jesus berseru pula dengan suara nyaring…"
Serta banyak lagi ayat-ayat lainnya yang menggambarkan bahwa Jesus
sudah menyaringkan suaranya dan bahkan berteriak kepada Allah dan
manusia didalam berdoa dan berfatwa, bahkan beliau juga tidak melarang
orang yang melakukannya bersama dia sebagaimana didapati dalam riwayat
Lukas 19:37 :
"Ketika Ia dekat Yerusalem, di tempat
jalan menurun dari Bukit Zaitun, mulailah semua murid yang
mengiringinya bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring…"
Ayat diatas selain bertentangan dengan kitab Jesaya pasal 42 ayat 2,
juga bertentangan dengan ayat al-Qur’an surah al-Hujuraat dibawah ini :
"Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah
kamu berkata padanya dengan suara keras …." (QS. al-Hujuraat 49:2)"Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya
di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati
mereka oleh Allah untuk bertaqwa." (QS. al-Hujuraat 49:3)
Lalu sebagaimana nubuatan Jesaya diatas, perjuangan sang hamba pilihan
didalam menyampaikan risalah Allah kepada manusia tidak akan digagalkan
dan patah semangatnya sampai kebenaran Allah tertegakkan diatas bumi
ini.
Jelas merefer pada diri Nabi Muhammad Saw, beliau telah berhasil dengan
sukses menyampaikan misi kenabiannya kepada manusia, menegakkan suatu
ummat yang adil, beradab serta berTuhan hingga beliau wafat dengan
tenangnya pada hari Senin, 12 Rabi’ul awal tahun ke-11 Hijriah.
Nama besarnya tetap abadi sampai sekarang, bahkan musuh-musuhnya pun
telah menyanjungnya, mengaguminya sebagai orang yang paling sukses
dalam sejarah para Nabi.
"Jika kita mengukur kebesaran dengan pengaruh, dia seorang raksasa
sejarah. Dia berjuang meningkatkan tahap rohaniah dan moral suatu
bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban karena panas dan kegersangan
gurun. Dia berhasil lebih sempurna dari pembaharu manapun; belum pernah
ada orang yang begitu berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya seperti dia,"
tulis Will Durant dalam the Story of Civilization terhadap diri Nabi
Muhammad Saw.
"Dia datang seperti sepercik sinar dari langit, jatuh kepadang pasir
yang tandus, kemudian meledakkan butir-butir debu menjadi mesiu yang
membakar angkasa sejak Delhi sampai ke Granada." Tambah Thomas Carlyle
dalam On Heroes and Hero Worship.
Dengan sejumlah informasi yang mereka miliki, Durant dan Carlyle
berusaha melukiskan kebesaran Rasulullah Saw. Mereka tidak pernah
berjumpa dengan Nabi yang mulia. Mereka tidak pernah melihat wajah atau
mendengar suaranya. Mereka bahkan tidak beriman kepada apa yang dibawa
oleh Nabi Saw. Mereka hanya menyaksikan lewat lembaran-lembaran sejarah
yang mereka teliti.
Muhammad Saw, sebagaimana Nabi-nabi Allah yang lain, datang bukan hanya
sekedar mengajarkan shalat dan doa. Dia adalah tokoh revolusioner yang
memimpin kelompok tertindas melawan kezaliman sistem yang berlaku. Dia
tampil membimbing kaum Mustadh’afin untuk mengubah nasibnya dan
menentang kaum Mustakbirin supaya menghentikan keserakahannya. Karena
itu, dia didukung rakyat kecil dan dibenci kebanyakan penguasa.
Pengakuan terhadap kebesaran dan kesuksesan Nabi Muhammad Saw ini bukan
saja timbul Dikalangan para orientalis, bahkan secara jujur, Prof. K.S.
Rama Krishna Rao, seorang Kepala jurusan Filsafat pada Akademi Kesenian
Maharani, Mysore-India yang beragama Hindhu, didalam bukunya Muhammed
The Prophet of Islam telah menyatakan kekagumannya. (http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/prophet/lifeofprophet.html)
Michael H. Hart pengarang buku "Seratus Tokoh yang paling berpengaruh
dalam sejarah" yang menganut paham Nasrani Trinitas-pun mengakui
kesuksesan Rasulullah Saw dan menempatkannya dalam daftar urutan
pertama tokoh-tokohnya, bahkan melebihi tokoh pujaannya sendiri, Jesus.
Jelas Michael H. Hart bukanlah seorang yang bodoh yang begitu saja
menentukan pilihannya ini. Beliau memiliki gelar DR dalam empat cabang
ilmu, yaitu bidang Matematika (Cornell University 1952), bidang Hukum
(New York University 1958), bidang Kimia (Edelvi University 1968) dan
bidang Angkasa Luar (Princeton University 1972).
Namun apa komentarnya dalam uraian pertama bukunya tersebut ?
"Jatuhnya
pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar seratus
tokoh yang berpengaruh didunia mungkin mengejutkan sementara pembaca
dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tetapi saya berpegang
kepada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad, satu-satunya manusia dalam
sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa, baik ditilik
dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi."
"Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu."(QS. al-Ahzaab 33:21)
Sejarah juga membuktikan, Jesus memang tidak sukses didalam
menyampaikan syiar Allah kepada umatnya, Bani Israil. Bahkan secara
mengenaskan didalam Bible digambarkan perjuangan Jesus justru harus
tergagalkan diatas kayu salib setelah sekian lama beliau dikejar-kejar
dan hendak dibunuh oleh musuh-musuhnya.
Jadi sekali lagi jelas bahwa nubuat ini tidak tertuju kepada Jesus namun lebih tepat terhadap diri Nabi Muhammad Saw.
"Beginilah firman Allah, TUHAN, yang menciptakan langit dan
membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di
atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya
dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya". (Ayat 5)"Aku inilah TUHAN yang telah memanggil engkau dengan
kebenaran, telah memegang tanganmu; Aku memeliharakan engkau dan
mengaruniakan engkau perjanjian kepada umat itu sebagai cahaya bagi
orang-orang kafir. Untuk membuka mata orang yang buta, untuk
mengeluarkan orang yang terbelenggu dalam penjara dan orang yang duduk
dalam gelap-pun engkau keluarkan dari kurungan."
(Ayat 6 s.d 7)
Bahwa Allah telah memanggil Nabi Muhammad Saw dengan kebenaran, yaitu
Allah telah mengirimkan wahyu kepadanya untuk menyatakan segala yang
haq dan membatalkan hal yang bathil.
"Aku inilah Allah, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan
kemuliaan-Ku kepada yang lain atau pujian-Ku kepada berhala.
Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan, hal-hal
yang baru hendak Kuberitahukan. Sebelum hal-hal itu muncul, Aku
mengabarkannya kepadamu." (Ayat 8 s.d 9)
Bahwa Nabi Muhammad Saw menyerukan orang agar tidak menyembah kepada
Tuhan-tuhan yang lain selain daripada Allah yang berdiri dengan
sendiri, tidak beranak dan tidak diperanakkan dalam arti apapun serta
tiada yang dapat menandingi-Nya.
"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi!
Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan
segala penduduknya. Hendaklah padang gurun dan segala negrinya
menyaringkan suaranya, demikian pula seluruh desa yang didiami
orang-orang Kedar" (ayat 10 s.d 11)
Disini disebutkan lagi nama Kedar, yaitu nenek moyang dari Nabi
Muhammad Saw yang terlahir sebagai putra kedua Nabi Ibrahim as (lihat
artikel : Tafsir Kitab Kejadian). Dan sekali lagi ini tidak dapat diterapkan terhadap diri Jesus atau Nabi-nabi yang lainnya dari Bani Israil.
Bahwa Allah melalui Nabi Muhammad Saw akan menyatukan seluruh Tanah
Arabia, menyatukan seluruh keturunan Kedar, mempersatukan seluruh
generasi Ibrahim as, bersama dengan seluruh umat manusia dari seantero
dunia dalam rangkaian ibadah Haji dirumah Allah, Ka’bah, Mekkah
al-Mukarromah sebagaimana terdapat dalam nubuat Jesaya pasal 60 ayat
ke-7:
"Segala domba Kedar
dikumpulkan kepadamu, segala domba jantan Nebayot dihantar akan gunamu,
sekalian itu naik keatas mezbah-Ku, dipersembahkan dengan keridhoan
hati, maka rumah-Ku yang mulia itu (Ka’bah) akan Ku permuliakan pula."
Penafsiran Ka’bah sebagai rumah Allah yang terdapat dalam Jesaya 60:7
diatas kita sandarkan sendiri terhadap ayat Bible ke-11 dalam pasal
yang sama :
"Maka segala pintu gerbangmu pun akan
terbuka selalu, baik siang malam tiada ia itu ditutup, supaya dibawa
masuk kepadamu akan tentara orang-orang kafir dan segala rajanya pun
diantar."
Ayat ke-11 ini kita tafsirkan sesuai kenyataan
yang berlaku dihadapan kita, bahwa kota Mekkah al-Mukarromah dimana
Ka’bah sebagai Rumah Allah senantiasa terbuka untuk orang-orang yang
ingin melakukan ibadah kepada Allah, untuk orang-orang yang sadar dari
segala kekafirannya, baik tua, muda, besar, kecil, rakyat hingga raja
tanpa membedakan ras, suku, golongan maupun pangkat kedudukan duniawiah
mereka.
Seluruhnya bercampur menjadi satu umat dihadapan Allah, sebab Allah
tidak akan menilai semuanya itu kecuali taqwa mereka kepada-Nya.
"Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang
yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertaqwa di antara kamu."(QS. al-Hujuraat 49:13)
"Dan ketika Kami menjadikan rumah itu (yaitu Ka’bah) tempat berkumpul bagi manusia …"
(QS. Al-Baqarah 2:125)
"Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia…"
(QS. Al-Ma’idah 5:97)
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan
haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan
berkendaraan yang datang dari segenap penjuru yang jauh."
(QS. 22:27)
Kemudian pada awal pasal Jesaya 42:10 disebutkan "Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN…"
Suatu lagu baru adalah merupakan senandung doa pujian kepada Allah dalam bentuknya yang lain. Dalam hal ini "bentuk yang lain" yang dimaksudkan merefer pada kitab Jesaya pasal 28: 11 serta kitab Zefania pasal 3:9
"Maka sebab itu Dia pun akan berfirman kepada bangsa ini dengan logat yang asing dan dengan bahasa yang lain." (Jesaya 28:11)
"Tetapi pada masa itu Aku akan mengaruniakan kepada
semua bangsa lidah yang suci; supaya mereka itu sekalian menyebut nama
Tuhan. Melayani-Nya dalam satu persamaan." (Zefania 3:9)
Dengan demikian, "Nyanyian baru bagi Tuhan" yang dimaksud oleh Jesaya 42:10
ini adalah doa dan pujian yang berasal dengan logat dan bahasa yang
lain daripada sebelumnya yaitu diluar dari bahasa Arami maupun Ibrani
yaitu bahasa Arab, pada saat umat Islam diseluruh dunia berseru kepada
Tuhan, pada saat sholat, berhaji dan pada saat mereka saling
mengucapkan salam sebagai satu bahasa kesatuan dan persatuan hidup dan
kehidupan beragama sebagaimana isi ayat terakhir dari Zefania pasal 3:9 "… melayani-Nya dalam satu persamaan."
"Hendaklah semua orang yang duduk dibukit batu itu bernyanyi,
biarkanlah mereka berseru-seru dari puncak bukit. Biarkanlah mereka
memberikan pujian kepada TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya
di pulau-pulau. TUHAN keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang
perang Ia membangkitkan semangat-Nya untuk bertempur; Ia bertempik
sorak, ya, Ia memekik, terhadap musuh-musuh-Nya Ia membuktikan
kepahlawanan-Nya."
(Ayat 12 s.d. 13)
Dari bukit Arafah dekat kota Mekkah, para Jemaah Haji dari seluruh
pulau didunia ini setiap tahunnya datang berkumpul bersama dan berseru:
Labbaykallahumma Labbayk
Labbayka laa syariikalaka labbayk
Innal hamda wan ni’mata laka walmulk
La syariikalaka
Yang artinya :
Aku sambut panggilanmu, Ya Allah; Aku sambut panggilan-Mu;
Aku sambut panggilan-Mu, Tiada sekutu bagi-Mu;
Aku sambut panggilan-Mu; Sesungguhnya segala puji dan kenikmatan serta segenap kekuatan adalah milik-Mu, Tiada sekutu bagi-Mu."
Allah telah menunjukkan kekuasaan-Nya, mengalahkan semua dakwah
keberhalaan manusia, memenangkan risalah para Nabi-Nya dari seluruh
kejahatan, membuktikan kebesaran-Nya dihadapan para musuh-Nya.
"Karena sesungguhnya kegelapan menudungi bumi dan dalam kelam kabut
menudungi segala bangsa, sementara Tuhan telah terbit atas kamu dan
kemuliaan-Nya pun bersinar kepadamu. Maka segala orang kafir pun akan
datang kepada terangmu dan segala raja-raja pun kepada cahaya yang
sudah terbit bagi kamu" (Jesaya 60:2-3)
Begitulah Tafsir dari satu nubuat yang sangat jelas sekali dalam Kitab
Jesaya akan kehadiran Rasulullah Muhammad Saw. Dan Sebagai akhir dari
pemaparan Tafsir Kitab Jesaya ini, perkenankan pula saya mengambil
persamaan akan satu ayat dalam Kitab Jesaya dengan satu ayat dari
al-Qur’an :
"Bangunlah engkau, nyatakanlah cahayamu, karena terangmu ada datang dan kemuliaan Tuhan terbitlah atas kamu."
(Jesaya 60:1)
"Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan Tuhanmu, agungkanlah."
(QS. al-Mudattsir 74:1-3)
"Kebenaran itu adalah dari Tuhan-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu."
(QS. Al-Baqarah 2:147)
Konsili Nicea : Ketika YESUS (Seorang Manusia Biasa) “Dijadikan Tuhan”
April 18th, 2008 by indraemcKonsili Nicea 325 Masehi
Pada abad ini pertikaian paham sangat sengit membakar Gereja. Arius,
uskup dari Aleksandria, menolak ketuhanan Yesus yang menimbulkan
kemarahan sebagian besar orang-orang Kristen. Akhirnya kaisar
Konstantine menyelenggarakan konsili di Nicea tahun 325 Masehi. 1800
orang yang diundang untuk hadir dalam konsili ini terdiri atas, 1000
orang yang berasal dari Gereja Timur dan 800 dari Gereja Barat. 22
orang rombongan Arius yang dipimpin oleh Eusebius of Nicomedia,
semuanya diusir dari forum.
Sehingga secara keseluruhan Konstantine telah mengusir keluar sekitar
1482 uskup dan hanya 318 yang diijinkan mengikuti hingga akhir. ( Dr.
Henery Stbble, An Account of the Rise and Progress of Mohametanism,
1954, hal.44-45, Holy Blood Holy Grail hal.692, Arana-"Holocaust
Theology" ).
Dari 318 suara tersebut hanya 2 suara yang mendukung Arius. Konsili
pertama yang dilaksanakan pada tanggal 20 Mei sampai 25 Juni diakhiri
dengan ketokan palu yang mengesahkan Kredo Misterius, yang juga dikenal
sebagai Kredo Nicea. Kredo Nicea yang sekarang bukanlah rumusan yang
disepakati pada konsili Nicea dulu, tetapi sudah diperluas dan
dimodifikasi. ( Prof. Percy Gardner, English Modernism,-Apendiks I, hal.223 ).
Yang paling penting dari semuanya, keputusan Konsili Nicea diambil
dengan cara pengambilan suara, bahwa Yesus seorang Tuhan bukan sekedar
nabi yang bisa wafat. (Holy Blood Holy Grail, hal.472) Konsili Nicea
menjatuhkan hukuman pengucilan Arius dan uskup lainnya yang ikut dalam
konsili tetapi menolak doktrin Trinitas. Tulisan-tulisan Arius dibakar
dan akan memasukkan ke penjara bagi siapa saja yang kedapatan memiliki
tulisannya. (Edward Gibbon, Decline and Fall of Roman Empire, vol.2, hal.693).
Pada konsili tersebut Yesus dinyatakan sebagai, "Tuhan dari segala
Tuhan, Cahaya dari segala Cahaya, Maha Tuhan dari segala Maha Tuhan". (Hasting’s Encyclopedia of Etnics & Religion, vol.4, hal.239).
Lingkaran terpelajar masih berada di pihak Arius dan mereka telah
dikekang dengan tangan besi. Dimasa itu popularitas Arius mencapai
puncaknya, yang dibuktikan oleh Santo Jerome sebagai berikut : "Seluruh
dunia merasa dan terheran-heran menemukan dirinya sebagai penganut
Arius". (Wilfred W.Briggs, Introduction to the History of the Christian Church, hal.49)
Will Durant menulis : "Perdebatan seru tentang doktrin Trinitas yang
diperkenalkan oleh Athanasius tidak pernah berakhir dengan adanya
konsili Nicea. Beberapa uskup masih berpihak pada Arius.
Kelompok gereja yang masih loyal kepada Kredo Nicea disingkirkan dari
Gereja; kadang kala disingkirkan oleh kekerasan massa; setengah abad
Gereja mengikuti ajaran Arius dan meninggalkan ketuhanan Yesus. Setiap
uskup memiliki faksi yang mendukungnya. Pertikaian antar faksi pecah
menjadi kerusuhan berdarah, dan banyak yang terbunuh. (Will Durant, Age of Faith) Pemandangan kekerasan yang mengerikan dan pertempuran yang menelan ribuan jiwa, merupakan hal yang biasa selama periode ini.
Aleksandria, daerah tempat tinggal Arius, menjadi ladang pertikaian
yang paling ganas. Gibbon mencatat, satu insiden kekerasan menelan
korban "tiga ratus lima puluh jiwa". Mengenai kekejaman Gereja dalam
masalah ini bahas lengkap dalam buku Edward Gibbon (pasal 21).
Dimasa pemerintahan Konstantin, merupakan periode emas bagi Kristen
karena mendapatkan kitab suci Bibel yang standar. Itu pun tidak bisa
dikerjakan tanpa kontroversi yang dahsyat melalui konsili-konsili
Gereja. Sebagaimana dicatat oleh Marjorie Bowen :
"Kitab-kitab injil harus direvisi beberapa kali sebelum diterima,
orang-orang yang dianggap sesat harus dihadapi, serta menyelenggarakan
konsili di Nicea tahun 325 Masehi dan di Konstantinopel tahun 381
Masehi untuk merumuskan dogma dan keimanan agama Kristen." (Marjorie Bowen, The Church and Social Progress, hal.4-5) Konsili-konsili Konsili Konstantinopel, Tahun 381.
Theodosius I menyelenggarakan Konsili Konstantinopel untuk membahas
lebih jauh tentang ketuhanan Yesus. Konsili ini berakhir dengan memberi
penegasan pada Kredo Nicea. Konsili Efesus, Tahun 431. Konsili ini
diselenggarakan untuk membahas pertanyaan apakah Maria (Ibu Yesus)
manusia asli atau termasuk Tuhan.
Pembahasan ini dilatarbelakangi karena sekte Maronite menyembah Maria
sebagai "Ibu Tuhan" dan memasukkannya sebagai salah satu oknum trinitas
pengganti "roh suci". Konsili ini mengutuk penyembahan terhadap Maria.
Konsili Chalsedon, Tahun 451. Konsili ini membahas tentang teori Dua
Kodrat Yesus. Konsili Konstantinopel, Tahun 553. Konsili diselenggrakan
untuk memecahkan teka-teki kodrat Yesus tersebut. Konsili ini
didominasi oleh uskup-uskup Gereja Timur, Gereja Barat menolak semua
keputusan dari konsili ini. Pada abad ini diputuskannya Natal pada 25
Desember oleh Dionysius Exiguus, mengadopsi hari kelahiran anak dewa
Matahari yang lahir pada hari Minggu, 25 Desember. Pada akhir abad ke-6 lahirlah Islam.
Kristen telah menyimpang demikian jauh dari ajaran aslinya (ajaran
Yesus) bahkan Gereja Barat lebih banyak mengadopsi agama Pagan. Kristen
mengalami kebusukan hingga akarnya. Ketegangan antara Gereja Timur dan
Gereja Barat berangsur-angsur melemah. Gereja Timur hanya memiliki
sedikit pengikut, sebagai akibat ribuan pemeluk Kristen beralih ke
agama Islam. Dan hampir semua wilayah Mediterania berada dibawah
pengaruh Islam.
"Mungkin karena pengaruh secara tidak langsung dari agama baru Islam yang anti-musyrik, pada abad ke-8, tentara kaisar Isauria…
menemukan sesuatu yang tidak disukainya pada peribadatan yang sudah
lama berlaku dalam dunia Kristen yang berbau politheisme." (J.M Robertson, A Short History of Freethought, vol.1, hal.277).
Selanjutnya untuk pertama kali dalam sejarah Kristen pada tahun 723
tradisi Pagan dalam tata cara kebaktian agama Kristen dilarang oleh Kaisar Leo
melalui pengumuman, dan ia lebih condong pada ajaran monotheistik
Islam. Bagaimanapun, larangan ini dicabut pada tahun 787 oleh Konsili
ke-II di Nicea. (The Invacation of Saints and Adoration of Images, oleh Rev. W.P. Hares, hal 10-11).
Pemilihan Kitab Injil disebarkan dari mulut ke mulut sehingga tradisi
oral ini menghasilkan laporan yang berlainan satu dengan lain terhadap
perkataan dan perbuatan Yesus. Ketika mereka berusaha
mendokumentasikannya maka bertambahlah perbedaan-perbedaan akibat
variasi verbal. Sarjana-sarjana Kristen mengakui fakta sejarah bahwa
pada terdapat juga sejumlah Injil-injil yang lain, dan masing-masing
gereja mempunyai versinya sendiri.
Sebagian sarjana mempercayai bahwa jumlah Injil-Injil tersebut mencapai 300 Injil (Holy Blood Holy Grail, hal.692).
Tapi bagaimana yang yang terpilih hanya 4 saja ? Ke-empat Injil
tersebut (Matius, Markus, Lukas & Yohanes) dipilih pada saat
Konsili Nicea 325 Masehi. Konsili yang memperkenalkan konsep Trinitas
untuk pertama kali. Sehingga pemilihan ke-4 Injil tersebut adalah
penyesuaian terhadap Kredo yang dipaksakan. Maka semua Injil yang
menceritakan tentang kemanusiaan Yesus harus di hancurkan.
Teknis pemilihan Injil-Injil tersebut adalah, semua naskah Injil yang
berbeda-beda diletakkan dibawah sebuah meja di ruang Konsili. Setiap
orang diminta meninggalkan ruangan tersebut dan pintunya dikunci. Semua
uskup diminta untuk berdoa sepanjang malam supaya versi Kitab yang
benar akan berada di atas meja tersebut. Pada keesokan paginya, ke-4
Injil, Matius, Markus, Lukas dan Yohanes dengan "ajaib"nya telah berada
diatas meja dengan rapi, sisanya berserakan dibawah meja. Sehingga
diputuskan semua yang terletak dibawah meja haruslah dibakar. (Sex in the Bible, Wahyudi).
Ajaran YESUS Yang Sesungguhnya
April 18th, 2008 by indraemcApa ajaran Yesus yang sebenarnya ?
Yesus mengajarkan Tauhid
Markus 12:29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
Yesus menyerukan pada bani Israel untuk meng-esakan Allah. Yesus tidak pernah mengajarkan TRINITAS.
Yesus datang untuk menegakkan Hukum Taurat
Matius
5:17-18 “Janganlah kamu menyangka, bahwa aku datang untuk meniadakan
hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk
meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu
iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,
sebelum semuanya terjadi.
Lukas 16:17 Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal.
Yesus
tidak membawa ajaran baru. Kedatangan Yesus bukan untuk
meniadakan/menghapus hukum Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa tapi
justru meluruskan kembali kesesatan-kesesatan bani Israel untuk kembali
pada ajaran Taurat yang benar.
Yesus sunat
Lukas
2:21 Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi
nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung
ibunya.
Kejadian
17:14 Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat
kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara
orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjianku."
Mengapa
Yesus sunat ? Seperti yang telah dijelaskan diatas, Yesus tidak membawa
ajaran baru. Tapi Yesus melaksanakan sepenuhnya hukum Taurat. Kejadian
17:14 adalah tentang hukum sunat dalam Taurat.
Yesus mengajarkan kalau mendapat rejeki dibagi sama rasa sama rata
Lukas
22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan
memberikannya kepada mereka, katanya: “Inilah tubuhku yang diserahkan
bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan aku.”
Yesus melarang memanggil dirinya Tuhan
Matius
7:21-23 Bukan setiap orang yang berseru kepadaku: Tuhan, Tuhan! akan
masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak
Bapaku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru
kepadaku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan
mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu
juga? Pada waktu itulah aku akan berterus terang kepada mereka dan
berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaku, kamu
sekalian pembuat kejahatan!”
Ayat di atas sangat JELAS, bahwa Yesus menolak di panggil sebagai Tuhan.
Yesus mengatakan dirinya utusan Allah
Yohanes 7:16 Jawab Yesus kepada mereka: “Ajaranku tidak berasal dari diriku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus aku.
Yohanes
5:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar
perkataanku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai
hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari
dalam maut ke dalam hidup.
Yohanes
5:30 Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri; aku
menghakimi sesuai dengan apa yang sku dengar, dan penghakimanku adil,
sebab aku tidak menuruti kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia
yang mengutus aku.
Yohanes
5:37 Bapa yang mengutus aku, Dialah yang bersaksi tentang aku. Kamu
tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat,
Yohanes
7:33 Maka kata Yesus: "Tinggal sedikit waktu saja aku ada bersama kamu
dan sesudah itu aku akan pergi kepada Dia yang telah mengutus aku.
Yohanes
8:26 Banyak yang harus kukatakan dan kuhakimi tentang kamu; akan tetapi
Dia, yang mengutus aku, adalah benar, dan apa yang kudengar dari
pada-Nya, itu yang kukatakan kepada dunia."
Yohanes
12:44 Tetapi Yesus berseru kata-Nya: "Barangsiapa percaya kepadaku, ia
bukan percaya kepadaku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus aku;
Masih
banyak lagi ayat-ayat yang menyatakan bahwa Yesus adalah seorang utusan
(utusan = nabi). Tapi tidak pernah ada ayat yang menyatakan bahwa Yesus
berkata ”Aku-lah Yesus, Tuhanmu, sembahlah aku” TIDAK PERNAH ADA AYAT
SEPERTI ITU.
Yesus memerintah untuk mengajarkan ajarannya
Matius 28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintah-kan kepadamu.
Orang-orang yang memanggil Yesus Kristus/Mesias/Juruselamat adalah penyesat
Matius
24:4-5 Jawab Yesus kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang
yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai
nama-Ku dan berkata: Akulah (yesus-lah) Mesias, dan mereka akan
menyesatkan banyak orang.
Yesus mengisyaratkan bahwa ajarannya akan diruntuhkan
Matius
24:2-5 Ia berkata kepada mereka: “Kamu melihat semuanya itu? Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batu pun di sini akan
dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”
Kata mereka: “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan
apakah tanda kedatanganmu dan tanda kesudahan dunia?” Jawab Yesus
kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan
kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaku dan berkata:
Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.
Markus
13:2 Lalu Yesus berkata kepadanya: "Kaulihat gedung-gedung yang hebat
ini? Tidak satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang
lain, semuanya akan diruntuhkan."
Lukas
21:6 "Apa yang kamu lihat di situ — akan datang harinya di mana tidak
ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain;
semuanya akan diruntuhkan."
Maka
sesungguhnya ajaran Yesus (Nabi Isa as) adalah hanya menyembah pada
Allah SWT. Ajaran Yesus adalah ajaran yang Tauhid sama seperti
nabi-nabi yang telah Allah utus sebelumnya. Banyak ayat dalam Bibel
yang mengatakan Yesus hanyalah seorang utusan. Bahkan Yesus menolak
dengan tegas disebut sebagai Tuhan.
Yang menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan menyuruh untuk menyembah Yesus adalah ayat-ayat yang ditulis oleh Paulus.
Semakin
jelas bagi kita bahwa ayat-ayat dalam Bibel telah terkorupsi sedemikian
rupa sehingga mustahil jika dijadikan pegangan dalam hidup.
Sesungguhnya hanya Al-Qur’an saja Kitab yang berisi wahyu Allah yang
terjaga dari pengurangan ataupun penambahan tangan-tangan manusia.
=Penulis=
Nabi Muhammad dalam kitab suci Ummat BUDDHA
April 18th, 2008 by indraemc. Buddha meramalkan kedatangan seorang “Maitreya”:
A. Hampir semua kitab agama Buddha mengandungi ramalan ini. Di dalam Chakkavatti Sinhnad Suttanta D. 111, 76:
“Akan lahir ke dunia ini seorang Buddha
yang dikenali dengan nama Maitreya (baik dan murah hati). Maitreya ini
ialah seorang yang suci, seorang yang tertinggi dalam kuasa, yang
dikurniakan dengan kebijaksanaan, yang bertuah dan yang mengenali alam
ini dan apa yang Maitreya ini dapat daripada alam ghaib beliau akan
sebarkan risalah ini keseluruh alam. Maitreya ini akan dakwahkan agama
beliau yang agung ini daripada awal hingga keakhir. Buddha berkata
bahawa Maitreya ini akan memperkanalkan satu cara hidup yang sempurna
dan suci sebagaimana aku (Buddha) memperkenalkan agama aku. Pengikut
Maitreya ini lebih ramai daripada pengikut aku (Buddha)”.
B. Di dalam buku ini (Sacred Books of the East jilid 35 muka surat 225
“Aku
bukanlah satu-satunya Buddha sahaja. Selepas aku akan lahir seorang
Buddha lagi yang dikenali dengan nama Maitreya. Dia akan memiliki
banyak sifat-sifat yang mulia dan utama. Kalau anak murid aku
beratus-ratus anak murid, Maitreya tersebut beribu-ribu.”
C. Satu Iagi ramalan tentang Maitreya (Kitab Agama Buddha oleh Carus muka surat 217 dan 218-dari negara Ceylon (Sri Lanka). “Ananda (anak murid Buddha) bertanya kepada Gautama Buddha, `Siapakah akan mengajar kita semua selepas kamu meninggalkan kami?‘
Gautama Buddha menjawab:
“Saya
bukanlah Buddha yang pertama atau yang akhir yang didatangkan ke dunia
ini. Selepas aku seorang Buddha lagi akan dihantar ke dunia ini. Dialah
seorang yang kudus atau suci, yang mempunyai kesedaran yang tinggi,
yang dikurniakan dengan kebijaksanaan, mempunyai akhlak yang baik, yang
mengenali alam ini, pemimpin manusia yang bijaksana, yang dikasihi oleh
malaikat dan makhluk lain. Dia akan mengajar kepada kamu semua satu
agama atau kebenaran yang kekal abadi serta yang terpuji. Agama yang
diajar oleh Buddha ini akan menjadi satu cara hidup yang sempurna dan
suci. Kalau anak murid aku beratus-ratus tetapi anak murid Buddha ini
ialah beribu-ribu.”
Ananda bertanya lagi, ‘Bagaimana kami hendak mengenali Buddha ini ?’
Jawab Gautama Buddha: “Dia akan dikenali dengan gelaran Maitreya.”
>Perkataan `Maitreya’ di dalam
bahasa Sanskrit atau “Metteyya” di dalam bahasa Pali bererti dia yang
memiliki sifat kasih sayang, belas kasihan, baik atau murah hati. Ia
juga membawa makna seseorang yang pemurah dan mesra. Satu perkataan
Arab yang membawa erti segala sifat yang tersebut ialah ‘Rahmat’. Di
dalam Al-Quran (Surah Al Anbiyaa, Surah 21 ayat 107)“Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus kamu (Muhammad),melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Nabi Muhammad (Salawatu Alai Wasalam) dipanggil dengan gelaran “dia yang bersifat kasih sayang atau rahmat atau ‘Maitreya’.
>Perkataan Belas Kasihan dan dia yang Bersifat Belas Kasihan disebut di dalam Al-Quran tidak kurang daripada 409 kali.
>Tiap-tiap Surah di dalam AI Quran bermula
dengan perkataan yang amat indah sekali iaitu “Bismillah Hir-Rahman
Nir-Rahim” yang bererti “Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha
Penyayang’.
Hanya Surah At Taubah (Surah 9) tidak bermula dengan perkataan Bismillah>Perkataan Muhammad ada juga di eja “Mahamet”
atau “Mahomet” atau ejaan yang lain dalam berbagai bahasa. Perkataan
“Maho” di dalam bahasa Pali dan “Maha” di dalam bahasa Sanskrit bererti
sangat baik atau besar atau sangat mulia dan masyhur dan perkataan
“Metta” bererti belas kasihan. Maka perkataan “Mahamet” atau ”Mahomet”
bererti Belas Kasihan Yang Amat Besar.
2. Ajaran agama Buddha untuk semua lapisan masyarakat:
Mengikut buku Sacred Books of the East, jilid 11, muka surat 36 Maha-Parinibbana Sutta Bab 2 Ayat 32:
Buddha pernah menyebut “Saya sudah menyampaikan keseluruhan agama
saya yang benar kepada semua lapisan masyarakat. Wahai Ananda, (anak
murid beliau) seorang Tathagata tidak menyimpan sesuatu kebenaran
tetapi dia akan sebarkan atau mengajar keseluruhan agama itu.
Nabi Muhammad (Salawatu Alai Wasalam) diperintah oleh Allah Tuhan
yang Maha Berkuasa untuk menyampaikan keseluruhan agama Islam kepada
semua lapisan masyarakat tanpa menyimpan atau menyembunyikan sesuatu
kebenaran. Hatta daripada zaman Nabi (Salawatu Alai Wasalam) hingga ke
hari ini dan seterusnya Al-Quran dibaca dan di ajar secara terbuka.
Nabi Muhammad (Salawatu Alai Wasalam) dengan tegas melarang sesuatu
ajaran agama itu disembunyikan.
3. Anak Murid Dan Khadam Yang Setia Kepada Buddha:
Mengikut buku Sacred Books of the East, jilid 11 muka surat 97 Maha-Parinibbana Sutta Bab 5 Ayat 36:
“Di dalam satu syarahan Gautama Buddha memberi
tahu kepada pengikut beliau, bahawasanya semua Buddha dahulu memiliki
anak murid dan khadam yang amat setia kepada mereka. Anak murid dan
khadam yang amat setia kepadaku sekarang ialah Ananda. Seterusnya
Buddha yang akan datang pun akan ada anak murid dan khadam yang amat
setia kepada mereka”.
Nabi Muhammad (Salawatu Alai Wasalam) pun memiliki seorang anak
murid dan khadam yang amat setia. Beliau ialah Anas bin Malik (R.A)
yang dihadiahkan oleh keluarga beliau kepada Nabi Muhammad (Salawatu
Alai Wasalam) semasa Anas (R.A) berumur 8 tahun. Nabi Muhammad
(Salawatu Alai Wasalam) amat mengasihi Anas dan mengangap Anas sebagai
anak Baginda sendiri. Anas (R.A) sentiasa mendampingi Nabi (Salawatu
Alai Wasalam) mahupun masa senang atau susah, masa perang, atau masa
damai sampai Nabi Muhammad (Salawatu Alai Wasalam) wafat.
>Di dalam peperangan Uhud nyawa Nabi
dalam keadaan bahaya dan Nabi hampir dibunuh.Walaupun begitu Anas tetap
dengan Nabi.Umurnya di masa itu hanya 11 tahun sahaja.
>Dalam peperangan Hunain Nabi
Muhammad (Salawatu Alai Wasalam) dikepong oleh musuh yang terdiri
daripada pemanah dan nyawa Baginda (Salawatu Alai Wasalam) terancam
tetapi Anas (R.A) walaupun berumur 16 tahun tetap bersama Nabi
(Salawatu Alai Wasalam).
Peristiwa yang tersebut di atas membuktikan bahawa Anas (R.A) ialah
seorang anak murid dan khadam yang benar-benar setia kepada Nabi
Muhammad (Salawatu Alai Wasalam) sama seperti Ananda kepada Gautama
Buddha. Di dalam satu peristiwa Buddha di serang oleh seekor gajah yang
gila. Walaupun demikian Ananda tetap bersama Buddha.
4. Enam Kriteria Untuk Mengenali Buddha:
Mengikut Kitab Agama Buddha yang di tulis oleh Carus, muka surat 214:
“Buddha pernah berkata: “Terdapat dua peristiwa di mana rupa
Tathagata (Buddha) akan jadi amat cerah. Peristiwa yang pertama ialah
di waktu malam bila mana beliau sudah sampai ke tahap yang paling
tinggi dari segi rohani (Nirvana). Peristiwa yang kedua ialah pada
malam Buddha meninggal dunia yang fana ini (dia mati)”.
Mengikut Gautama Buddha ada enam kriteria untuk mengenali seorang Buddha:
>Seorang Buddha akan mencapai tahap yang paling tinggi dari segi rohani (Nirvana) di waktu malam.
>Di waktu dia mencapai Nirvana rupanya akan menjadi amat cerah.
>Seorang Buddha akan meninggal dunia atau mati dengan sebab yang biasa (natural death).
>Seorang Buddha akan meninggal dunia di waktu.malam.
>Sebelum kematian rupanya akan menjadi amat cerah.
>Selepas kewafatan,seorang Buddha tidak akan wujud atau ada di alam dunia ini lagi.
>>
Nabi Muhammad (Salawatu Alai Wasalam) mencapai darjat yang paling
tinggi di waktu malam bila mana Baginda (Salawatu Alai Wasalam) di
lantik menjadi seorang Rasul.Daripada Al-Quran (Surah Dukhan - Surah 44 Ayat 2-3):“Demi
Kitab (Al-Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami (Allah)
menurunkannya pada suatu malam yang diberkati dan sesungguhnya Kami-lah
yang memberi peringatan”. Mengikut satu lagi ayat daripada Al-Quran (Surah Al Qadr (Kemuliaan) Surah 97 Ayat 1).“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”
>>Semasa
Nabi Muhammad (Salawatu Alai Wasalam) di lantik menjadi seorang Rasul
baginda merasa dirinya dan kefahamanya dipenuhi dengan cahaya rohani.
>>Nabi Muhammad (Salawatu Alai Wasalam) wafat atau meninggal dunia dengan sebab yang biasa (natural death).
>>Mengikut Siti Aisyah (R.A) Nabi Muhammad (Salawatu Alai
Wasalam) wafat atau meninggal dunia di waktu malam. Malam kewafatan
Nabi Muhammad (Salawatu Alai Wasalam) tidak ada minyak lampu di
rumahnya. Hatta Siti Aisyah (R.A) terpaksa meminjam sedikit minyak
untuk menyalakan lampu.
>>Mengikut
Anas (R.A) (Anak murid dan khadam setia kepada Nabi) malam kewafatan
Nabi Muhammad (Salawatu Alai Wasalam) rupa Nabi (Salawatu Alai Wasalam)
amat cerah sekali.
>>Selepas pengkebumian Nabi Muhammad (Salawatu Alai Wasalam) (jasadnya) tidak dilihat lagi di alam dunia ini.
5. Semua Buddha adalah Pendakwah atau memberi Peringatan:
Mengikut Dhammapada (Sacred Books of East, jilid 10 muka surat 67) “Semua Jathagatas (Buddha) adalah Pendakwah atau memberi peringatan”.Dalam Al Quran Allah (SubhanAllah Wa Taala) menyebut tentang Nabi Muhammad (Salawatu Alai Wasalam).“Maka berilah peringatan, kerana sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” (Al-Quran, Surah Al-Ghaasyiyah, (Surah 88 Ayat 21-22).6. Ramalan Gautama Buddha Untuk Mengenali Seorang Maitreya:
Mengikut Dhammapada, Mattaya Sutta, 151: Maitreya yang di tunggu akan memiliki sifat-sifat yang terpuji seperti yang tersebut dibawah:>Perasaan belas kasihan untuk semua makhluk.> Seorang utusan keamanan dan seorang pendamai.
>Yang paling berjaya di alam ini. Maitreya sebagai pendakwah moral adalah:
>>Seorang yang sentiasa bercakap benar
>>Yang berbudi bahasa.
>>Yang bersifat lemah lembut dan dari keturunan bangsawan.
>>Tidak sombong atau angkuh.
>>Sebagai raja atau pemimpin kepada makhluk.
>>Sebagai contoh ikutan (dalam amalan dan perkataan atau percakapan) untuk semua manusia.
(http://www.saba-islamic-media.com)
MELURUSKAN KEMBALI MAKNA JIHAD
May 11th, 2007 by indraemcDr. Azahari,
salah seorang yang diyakini otak di balik sejumlah kasus peledakan bom
di Indonesia, boleh tewas. Akan tetapi, persoalan terorisme tampaknya
tidak akan berhenti. Apalagi Noor Din M Top, rekan Azahari, sampai kini
belum tertangkap.
Lebih dari itu,
terorisme, khususnya di Indonesia, menyisakan satu persoalan, yakni
adanya penyimpangan makna jihad oleh para pelaku tindakan terorisme,
yang kebetulan adalah Muslim. Paling tidak, hal itu terungkap dalam
tayangan VCD para pelaku terorisme-yang salah satunya diyakini Noor Din
M Top-yang disebarluaskan ke masyarakat beberapa waktu lalu. Intinya,
pelaku teror tersebut meyakini, bahwa berbagai upaya pengeboman dan
tindakan bom bunuh diri itu sebagai bagian dari jihad fi sabilillah.
Keyakinan tersebut tentu saja keliru dan patut dipertanyakan. Sebab,
meskipun konon motifnya adalah kebencian terhadap negara-negara kafir
penjajah, khususnya AS dan Inggris yang telah melakukan penjajahan atas
Afganistan dan Irak, toh kebanyakan yang menjadi korban peledakan bom
tersebut adalah orang-orang yang ‘tidak berdosa’. Apalagi Indonesia
bukanlah wilayah perang sebagaimana halnya di Afganistan, Irak, atau
Palestina.
Karena itu,
sebagaimana dinyatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla, ada masalah
pemahaman yang harus diluruskan dalam masyarakat, khususnya pemahamanan
soal jihad. "Masyarakat mengetahui bahwa ini adalah masalah pemahaman
yang harus diluruskan bahwa jihad itu tidak demikian," kata Wapres
kepada wartawan di Jakarta, Kamis (17/11). (Kompas, 17/11/2005).
Jihad dalam Islam
Sebagaimana
shalat, jihad adalah bagian dari ajaran Islam. Jihad bahkan termasuk di
antara kewajiban dalam Islam yang sangat agung, yang menjadi
‘mercusuar’ Islam.
Secara bahasa, jihad bermakna: mengerahkan kemampuan dan tenaga yang ada, baik dengan perkataan maupun perbuatan (Fayruz Abadi, Kamus Al-Muhîth, kata ja-ha-da.) Secara bahasa, jihad juga bisa berarti: mengerahkan seluruh kemampuan untuk memperoleh tujuan (An-Naysaburi, Tafsîr an-Naysâbûrî, XI/126).
Adapun dalam pengertian syar’î (syariat), para ahli fikih (fuqaha) mendefinisikan jihad sebagai upaya
mengerahkan segenap kekuatan dalam perang fi sabilillah secara langsung
maupun memberikan bantuan keuangan, pendapat, atau perbanyakan
logistik, dan lain-lain (untuk memenangkan pertempuran). Karena itu,
perang dalam rangka meninggikan kalimat Allah itulah yang disebut
dengan jihad. (An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, II/153. Lihat juga, Ibn Abidin, Hâsyiyah Ibn Abidin, III/336).
Di dalam al-Quran, jihad dalam pengertian perang ini terdiri dari 24 kata. (Lihat Muhammad Husain Haikal, Al-Jihâd wa al-Qitâl.
I/12) Kewajiban jihad (perang) ini telah ditetapkan oleh Allah SWT
dalam al-Quran di dalam banyak ayatnya. (Lihat, misalnya: QS an-Nisa’
4]: 95); QS at-Taubah [9]: 41; 86, 87, 88; QS ash-Shaf [61]: 4). Bahkan
jihad (perang) di jalan Allah merupakan amalan utama dan agung yang
pelakunya akan meraih surga dan kenikmatan yang abadi di akhirat.
(Lihat, misalnya: QS an-Nisaa’ [4]: 95; QS an-Nisa’ [4]: 95; QS
at-Taubah [9]: 111; QS al-Anfal [8]: 74; QS al-Maidah [5]: 35; QS
al-Hujurat [49]: 15; QS as-Shaff [61]: 11-12. Sebaliknya, Allah telah
mencela dan mengancam orang-orang yang enggan berjihad (berperang) di
jalan Allah (Lihat, misalnya: QS at-Taubah [9]: 38-39; QS al-Anfal [8]:
15-16; QS at-Taubah [9]: 24).
Pertanyaannya, kapan dan dimana jihad dalam pengertian perang itu dilakukan? Pertama:
manakala kaum Muslim atau negeri mereka diserang oleh orang-orang atau
negara kafir. Contohnya adalah dalam kasus Afganistan dan Irak yang
diserang dan diduduki AS sampai sekarang, juga dalam kasus Palestina
yang dijajah Israel. Inilah yang disebut dengan jihad defensif (difâ’î).
Dalam kondisi seperti ini, Allah SWT telah mewajibkan kaum Muslim untuk
membalas tindakan penyerang dan mengusirnya dari tanah kaum Muslim:
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Perangilah di
jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tetapi janganlah kalian
melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang melampaui batas. (QS al-Baqarah [2]: 190).
Kedua:
manakala ada sekelompok komunitas Muslim yang diperangi oleh
orang-orang atau negara kafir. Kaum Muslim wajib menolong mereka.
Sebab, kaum Muslim itu bersaudara, laksana satu tubuh. Karena itu,
serangan atas sebagian kaum Muslim pada hakikatnya merupakan serangan
terhadap seluruh kaum Muslim di seluruh dunia. Karena itu pula, upaya
membela kaum Muslim di Afganistan, Irak, atau Palestina, misalnya,
merupakan kewajiban kaum Muslim di seluruh dunia. Allah SWT berfirman:
وَإِنْ اسْتَنْصُرُوْكُمْ فِي الدِّيْنِ فَعَلَيْكُمْ النَّصْرُ
Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam urusan agama ini maka kalian wajib menolong mereka. (QS al-Anfal [8]: 72).
Ketiga:
manakala dakwah Islam yang dilakukan oleh Daulah Islam (Khilafah)
dihadang oleh penguasa kafir dengan kekuatan fisik mereka. Dakwah
adalah seruan pemikiran, non fisik. Manakala dihalangi secara fisik,
wajib kaum Muslim berjihad untuk melindungi dakwah dan menghilangkan
halangan-halangan fisik yang ada di hadapannya dibawah pimpinan
khalifah. Inilah yang disebut dengan jihad ofensif (hujûmî).
Inilah pula yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para Sahabat
setelah mereka berhasil mendirikan Daulah Islam di Madinah. Mereka
tidak pernah berhenti berjihad (berperang) dalam rangka menghilangkan
halangan-halangan fisik demi tersebarluaskannya dakwah Islam dan demi
tegaknya kalimat-kalimat Allah. Dengan jihad ofensif itulah Islam
tersebar ke seluruh dunia dan wilayah kekuasaan Islam pun semakin
meluas, menguasai berbagai belahan dunia. Ini adalah fakta sejarah yang
tidak bisa dibantah. Bahkan jihad (perang) merupakan metode Islam dalam
penyebaran dakwah Islam oleh negara (Daulah Islam). Allah SWT berfirman:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاََ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ ِللهِ
Perangilah
oleh kalian mereka (orang-orang kafir) hingga tidak ada lagi fitnah
(kekufuran) dan agama ini (Islam) hanya milik Allah. (QS al-Baqarah [2]: 193).
Terorisme Bukan Jihad
Dari definisi dan
konteks jihad di atas, jelas sekali bahwa tindakan terorisme (dalam
arti melakukan berbagai peledakan bom ataupun bom bunuh diri bukan
dalam wilayah perang, seperti di Indonesia) bukanlah termasuk jihad fi
sabilillah. Sebab, tindakan tersebut nyata-nyata telah mengorbankan
banyak orang yang seharusnya tidak boleh dibunuh. Tindakan ini haram
dan termasuk dosa besar berdasarkan firman Allah SWT:
وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ
Janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang haq. (QS al-Isra’ [17]: 33).
Allah SWT juga berfirman:
وَمَنْ
يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا
وَغَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
Siapa saja
yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah
neraka Jahanam; ia kekal di dalamnya; Allah pun murka kepadanya,
mengutukinya, dan menyediakan baginya azab yang besar. (QS. an-Nisa’ [4]: 93).
Apalagi Allah SWT pun telah berfirman:
وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allah Pengasih kepada kalian. (QS an-Nisa’ [4]: 29).
Keagungan Jihad Tak Boleh Dinodai
Sebagaimana telah dijelaskan di awal, jihad adalah amal yang agung. Imam an-Nawawi, dalam Riyâdh ash-Shâlihîn, membuat bab khusus tentang jihad. Beliau antara lain mengutip sabda Nabi saw., sebagaimana yang dituturkan oleh Abu Hurairah:
سُئِلَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْعَمَلِ
أَفْضَلُ؟ قَالَ: إِيْمَانٌ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ، قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟
قَالَ: اَلْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، قِيْلَ : ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ:
حَجٌّ مَبْرُوْرٌ
Rasulullah
saw. pernah ditanya, "Amal apakah yang paling utama?" Jawab Nabi, "Iman
kepada Allah dan Rasul-Nya." Beliau diitanya lagi, "Kemudian apa?"
Jawab Nabi, "Perang di jalan Allah." Beliau ditanya lagi, "Kemudian
apa?" Jawab Nabi, "Haji mabrur." (HR al-Bukhar dan Muslim).
Imam
Ibnu Hajar juga mengatakan bahwa dalam hadis tersebut (atau yang
serupa) perang di jalan Allah (jihad fi sabilillah) adalah amal yang
paling utama setelah iman kepada Allah dan Rasul-Nya (Ibnu Hajar
al-Asqalani, Fath al-Bari, 5/149).
Karena itu, sudah
selayaknya kaum Muslim menjaga keagungan jihad ini dari siapapun yang
berusaha menodai dan merendahkannya, baik karena ketadaktahuannya,
ataupun karena kedengkiannya (seperti yang dilakukan Barat kafir
penjajah) terhadap aktivitas jihad. Sebab, di samping makna jihad telah
diterapkan dengan kurang tepat, keagungan jihad juga telah sengaja
direndahkan oleh Barat kafir imperialis. Barat, misalnya, telah lama
menyebut Islam sebagai agama ‘barbarian’ hanya karena mengajarkan
jihad. Presiden Bush bahkan menyebut Islam sebagai agama radikal dan
fasis, sementara PM Inggris Blair menjuluki Islam sebagai ‘ideologi
Iblis’; juga antara lain karena faktor jihad. Colin Powell saat menjadi
menteri luar negeri AS juga pernah mengatakan, "Jika mereka hanya
mengirim generasi muda ke madrasah, sekolah itu tidak melakukan
apa-apa, tetapi mengindoktrinasi mereka dalam aspek-aspek buruk.
Mengajarkan kebencian tidak akan membawa perdamaian bagi kita semua di
kawasan ini." (Media Indonesia, 23/1/2004). Mengapa demikian?
Semua itu tidak lain sebagai bentuk propaganda mereka agar kaum Muslim
menjauhi aktivitas jihad. Sebab, bagaimanapun Barat menyadari bahwa
jihad adalah ancaman tersebar bagi keberlangsungan mereka atas Dunia
Islam. Karena itu, Barat bahkan berusaha agar jihad dihilangkan dari
ajaran Islam. Hal itu antara lain diwujudkan dengan upaya Barat untuk
memaksakan kurikulum ke madrasah-madrasah, pesantren-pesantren, atau
lembaga-lembaga pendidikan Islam karena dianggap mengajarkan kekerasan
dan memproduksi ‘para teroris’.
Walhasil, di satu
sisi kita jelas tidak setuju jika peledakan bom terhadap masyarakat
(termasuk Muslim) bukan dalam kondisi perang dikategorikan sebagai
jihad. Sebaliknya, di sisi lain, kita pun harus mewaspadai setiap upaya
dari Barat kafir penjajah yang berusaha memanipulasi bahkan
menghapuskan ajaran dan hukum jihad dari Islam demi kepentingan politik
mereka. []
Komentar al-Islam:
Wapres Yusuf Kalla mengungkapkan, perlu perang ideologi dan fisik untuk memerangi terorisme (Media Indonesia Online (22/11/2005).
Gembong teroris adalah negara-negara imperialis dan ideologi teroris adalah Kapitalisme-sekular.
MELURUSKAN KEMBALI MAKNA JIHAD
Buletin al-Islam Edisi 280
Dr. Azahari,
salah seorang yang diyakini otak di balik sejumlah kasus peledakan bom
di Indonesia, boleh tewas. Akan tetapi, persoalan terorisme tampaknya
tidak akan berhenti. Apalagi Noor Din M Top, rekan Azahari, sampai kini
belum tertangkap.
Lebih dari itu,
terorisme, khususnya di Indonesia, menyisakan satu persoalan, yakni
adanya penyimpangan makna jihad oleh para pelaku tindakan terorisme,
yang kebetulan adalah Muslim. Paling tidak, hal itu terungkap dalam
tayangan VCD para pelaku terorisme-yang salah satunya diyakini Noor Din
M Top-yang disebarluaskan ke masyarakat beberapa waktu lalu. Intinya,
pelaku teror tersebut meyakini, bahwa berbagai upaya pengeboman dan
tindakan bom bunuh diri itu sebagai bagian dari jihad fi sabilillah.
Keyakinan tersebut tentu saja keliru dan patut dipertanyakan. Sebab,
meskipun konon motifnya adalah kebencian terhadap negara-negara kafir
penjajah, khususnya AS dan Inggris yang telah melakukan penjajahan atas
Afganistan dan Irak, toh kebanyakan yang menjadi korban peledakan bom
tersebut adalah orang-orang yang ‘tidak berdosa’. Apalagi Indonesia
bukanlah wilayah perang sebagaimana halnya di Afganistan, Irak, atau
Palestina.
Karena itu,
sebagaimana dinyatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla, ada masalah
pemahaman yang harus diluruskan dalam masyarakat, khususnya pemahamanan
soal jihad. "Masyarakat mengetahui bahwa ini adalah masalah pemahaman
yang harus diluruskan bahwa jihad itu tidak demikian," kata Wapres
kepada wartawan di Jakarta, Kamis (17/11). (Kompas, 17/11/2005).
Jihad dalam Islam
Sebagaimana
shalat, jihad adalah bagian dari ajaran Islam. Jihad bahkan termasuk di
antara kewajiban dalam Islam yang sangat agung, yang menjadi
‘mercusuar’ Islam.
Secara bahasa, jihad bermakna: mengerahkan kemampuan dan tenaga yang ada, baik dengan perkataan maupun perbuatan (Fayruz Abadi, Kamus Al-Muhîth, kata ja-ha-da.) Secara bahasa, jihad juga bisa berarti: mengerahkan seluruh kemampuan untuk memperoleh tujuan (An-Naysaburi, Tafsîr an-Naysâbûrî, XI/126).
Adapun dalam pengertian syar’î (syariat), para ahli fikih (fuqaha) mendefinisikan jihad sebagai upaya
mengerahkan segenap kekuatan dalam perang fi sabilillah secara langsung
maupun memberikan bantuan keuangan, pendapat, atau perbanyakan
logistik, dan lain-lain (untuk memenangkan pertempuran). Karena itu,
perang dalam rangka meninggikan kalimat Allah itulah yang disebut
dengan jihad. (An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, II/153. Lihat juga, Ibn Abidin, Hâsyiyah Ibn Abidin, III/336).
Di dalam al-Quran, jihad dalam pengertian perang ini terdiri dari 24 kata. (Lihat Muhammad Husain Haikal, Al-Jihâd wa al-Qitâl.
I/12) Kewajiban jihad (perang) ini telah ditetapkan oleh Allah SWT
dalam al-Quran di dalam banyak ayatnya. (Lihat, misalnya: QS an-Nisa’
4]: 95); QS at-Taubah [9]: 41; 86, 87, 88; QS ash-Shaf [61]: 4). Bahkan
jihad (perang) di jalan Allah merupakan amalan utama dan agung yang
pelakunya akan meraih surga dan kenikmatan yang abadi di akhirat.
(Lihat, misalnya: QS an-Nisaa’ [4]: 95; QS an-Nisa’ [4]: 95; QS
at-Taubah [9]: 111; QS al-Anfal [8]: 74; QS al-Maidah [5]: 35; QS
al-Hujurat [49]: 15; QS as-Shaff [61]: 11-12. Sebaliknya, Allah telah
mencela dan mengancam orang-orang yang enggan berjihad (berperang) di
jalan Allah (Lihat, misalnya: QS at-Taubah [9]: 38-39; QS al-Anfal [8]:
15-16; QS at-Taubah [9]: 24).
Pertanyaannya, kapan dan dimana jihad dalam pengertian perang itu dilakukan? Pertama:
manakala kaum Muslim atau negeri mereka diserang oleh orang-orang atau
negara kafir. Contohnya adalah dalam kasus Afganistan dan Irak yang
diserang dan diduduki AS sampai sekarang, juga dalam kasus Palestina
yang dijajah Israel. Inilah yang disebut dengan jihad defensif (difâ’î).
Dalam kondisi seperti ini, Allah SWT telah mewajibkan kaum Muslim untuk
membalas tindakan penyerang dan mengusirnya dari tanah kaum Muslim:
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Perangilah di
jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tetapi janganlah kalian
melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang melampaui batas. (QS al-Baqarah [2]: 190).
Kedua:
manakala ada sekelompok komunitas Muslim yang diperangi oleh
orang-orang atau negara kafir. Kaum Muslim wajib menolong mereka.
Sebab, kaum Muslim itu bersaudara, laksana satu tubuh. Karena itu,
serangan atas sebagian kaum Muslim pada hakikatnya merupakan serangan
terhadap seluruh kaum Muslim di seluruh dunia. Karena itu pula, upaya
membela kaum Muslim di Afganistan, Irak, atau Palestina, misalnya,
merupakan kewajiban kaum Muslim di seluruh dunia. Allah SWT berfirman:
وَإِنْ اسْتَنْصُرُوْكُمْ فِي الدِّيْنِ فَعَلَيْكُمْ النَّصْرُ
Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam urusan agama ini maka kalian wajib menolong mereka. (QS al-Anfal [8]: 72).
Ketiga:
manakala dakwah Islam yang dilakukan oleh Daulah Islam (Khilafah)
dihadang oleh penguasa kafir dengan kekuatan fisik mereka. Dakwah
adalah seruan pemikiran, non fisik. Manakala dihalangi secara fisik,
wajib kaum Muslim berjihad untuk melindungi dakwah dan menghilangkan
halangan-halangan fisik yang ada di hadapannya dibawah pimpinan
khalifah. Inilah yang disebut dengan jihad ofensif (hujûmî).
Inilah pula yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para Sahabat
setelah mereka berhasil mendirikan Daulah Islam di Madinah. Mereka
tidak pernah berhenti berjihad (berperang) dalam rangka menghilangkan
halangan-halangan fisik demi tersebarluaskannya dakwah Islam dan demi
tegaknya kalimat-kalimat Allah. Dengan jihad ofensif itulah Islam
tersebar ke seluruh dunia dan wilayah kekuasaan Islam pun semakin
meluas, menguasai berbagai belahan dunia. Ini adalah fakta sejarah yang
tidak bisa dibantah. Bahkan jihad (perang) merupakan metode Islam dalam
penyebaran dakwah Islam oleh negara (Daulah Islam). Allah SWT berfirman:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاََ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ ِللهِ
Perangilah
oleh kalian mereka (orang-orang kafir) hingga tidak ada lagi fitnah
(kekufuran) dan agama ini (Islam) hanya milik Allah. (QS al-Baqarah [2]: 193).
Terorisme Bukan Jihad
Dari definisi dan
konteks jihad di atas, jelas sekali bahwa tindakan terorisme (dalam
arti melakukan berbagai peledakan bom ataupun bom bunuh diri bukan
dalam wilayah perang, seperti di Indonesia) bukanlah termasuk jihad fi
sabilillah. Sebab, tindakan tersebut nyata-nyata telah mengorbankan
banyak orang yang seharusnya tidak boleh dibunuh. Tindakan ini haram
dan termasuk dosa besar berdasarkan firman Allah SWT:
وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ
Janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang haq. (QS al-Isra’ [17]: 33).
Allah SWT juga berfirman:
وَمَنْ
يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا
وَغَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
Siapa saja
yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah
neraka Jahanam; ia kekal di dalamnya; Allah pun murka kepadanya,
mengutukinya, dan menyediakan baginya azab yang besar. (QS. an-Nisa’ [4]: 93).
Apalagi Allah SWT pun telah berfirman:
وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allah Pengasih kepada kalian. (QS an-Nisa’ [4]: 29).
Keagungan Jihad Tak Boleh Dinodai
Sebagaimana telah dijelaskan di awal, jihad adalah amal yang agung. Imam an-Nawawi, dalam Riyâdh ash-Shâlihîn, membuat bab khusus tentang jihad. Beliau antara lain mengutip sabda Nabi saw., sebagaimana yang dituturkan oleh Abu Hurairah:
سُئِلَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْعَمَلِ
أَفْضَلُ؟ قَالَ: إِيْمَانٌ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ، قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟
قَالَ: اَلْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، قِيْلَ : ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ:
حَجٌّ مَبْرُوْرٌ
Rasulullah
saw. pernah ditanya, "Amal apakah yang paling utama?" Jawab Nabi, "Iman
kepada Allah dan Rasul-Nya." Beliau diitanya lagi, "Kemudian apa?"
Jawab Nabi, "Perang di jalan Allah." Beliau ditanya lagi, "Kemudian
apa?" Jawab Nabi, "Haji mabrur." (HR al-Bukhar dan Muslim).
Imam
Ibnu Hajar juga mengatakan bahwa dalam hadis tersebut (atau yang
serupa) perang di jalan Allah (jihad fi sabilillah) adalah amal yang
paling utama setelah iman kepada Allah dan Rasul-Nya (Ibnu Hajar
al-Asqalani, Fath al-Bari, 5/149).
Karena itu, sudah
selayaknya kaum Muslim menjaga keagungan jihad ini dari siapapun yang
berusaha menodai dan merendahkannya, baik karena ketadaktahuannya,
ataupun karena kedengkiannya (seperti yang dilakukan Barat kafir
penjajah) terhadap aktivitas jihad. Sebab, di samping makna jihad telah
diterapkan dengan kurang tepat, keagungan jihad juga telah sengaja
direndahkan oleh Barat kafir imperialis. Barat, misalnya, telah lama
menyebut Islam sebagai agama ‘barbarian’ hanya karena mengajarkan
jihad. Presiden Bush bahkan menyebut Islam sebagai agama radikal dan
fasis, sementara PM Inggris Blair menjuluki Islam sebagai ‘ideologi
Iblis’; juga antara lain karena faktor jihad. Colin Powell saat menjadi
menteri luar negeri AS juga pernah mengatakan, "Jika mereka hanya
mengirim generasi muda ke madrasah, sekolah itu tidak melakukan
apa-apa, tetapi mengindoktrinasi mereka dalam aspek-aspek buruk.
Mengajarkan kebencian tidak akan membawa perdamaian bagi kita semua di
kawasan ini." (Media Indonesia, 23/1/2004). Mengapa demikian?
Semua itu tidak lain sebagai bentuk propaganda mereka agar kaum Muslim
menjauhi aktivitas jihad. Sebab, bagaimanapun Barat menyadari bahwa
jihad adalah ancaman tersebar bagi keberlangsungan mereka atas Dunia
Islam. Karena itu, Barat bahkan berusaha agar jihad dihilangkan dari
ajaran Islam. Hal itu antara lain diwujudkan dengan upaya Barat untuk
memaksakan kurikulum ke madrasah-madrasah, pesantren-pesantren, atau
lembaga-lembaga pendidikan Islam karena dianggap mengajarkan kekerasan
dan memproduksi ‘para teroris’.
Walhasil, di satu
sisi kita jelas tidak setuju jika peledakan bom terhadap masyarakat
(termasuk Muslim) bukan dalam kondisi perang dikategorikan sebagai
jihad. Sebaliknya, di sisi lain, kita pun harus mewaspadai setiap upaya
dari Barat kafir penjajah yang berusaha memanipulasi bahkan
menghapuskan ajaran dan hukum jihad dari Islam demi kepentingan politik
mereka. []
Komentar al-Islam:
Wapres Yusuf Kalla mengungkapkan, perlu perang ideologi dan fisik untuk memerangi terorisme (Media Indonesia Online (22/11/2005).
Gembong teroris adalah negara-negara imperialis dan ideologi teroris adalah Kapitalisme-sekular.