Sebelum kita membahasnya, mari sejenak kita renungkan terlebih dahulu
dua firman Allah yang terdapat didalam al-Qur’an akan pribadi Nabi
Muhammad Saw al-Amin.
"Orang-orang yang telah Kami beri Kitab
itu (khususnya Yahudi dan Nasrani), mengenalnya (yaitu mengenal
Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Tetapi ada
sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka
mengetahui." (QS. Al-Baqarah 2:146)
"Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya (khususnya Yahudi
dan Nasrani), yang merugikan diri sendiri itu, mengenalnya (Muhammad)
seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri." (QS. Al-An’am 6:20)
Nah, kita semua umat Islam, memiliki kewajiban untuk menyingkapkan
kebenaran yang telah disembunyikan oleh orang-orang fasik dalam
kalangan Yahudi dan Nasrani untuk kita beritakan kepada seluruh dunia,
agar mereka tersadar dan kembali kedalam kasih Tuhan yang sebenarnya,
yaitu melalui petunjuk sang Kalky Authar, Ruh Kebenaran yang
dijanjikan, Rasulullah Muhammad Saw.
Nabi Muhammad Saw al-Amin, dilahirkan pada hari Senin 12 Rabi’ul awal
tahun gajah atau bertepatan dengan tahun 570 Masehi. Terlahir dari Ibu
bernama Siti Aminah Binti Wahab dan ayahnya Abdullah Bin Abdul
Muthalib, keturunan Bani Ismail, putra Nabi besar Ibrahim as yang
dijanjikan oleh Allah, dan sekaligus merupakan kakak dari Nabi Ishak,
putra Nabi Ibrahim dari Siti Sarah yang menurunkan Nabi-nabi besar
untuk umat Israel.
Pada suatu malam tanggal 17 Ramadhan, bersamaan dengan 06 Agustus 610
Masehi 203 tahun 41 dari kelahirannya atau ketika usia manusia yang
mulia yang digelari orang sebagai al-Amin itu mencapai 40 tahun 6 bulan
8 hari (tahun Qamariyah/Bulan) atau berusia 39 tahun 3 bulan 8 hari
(tahun Syamsiah/Matahari), turunlah Malaikat Jibril kepadanya yang
sedang bertahanuts didalam Gua Hira untuk menyampaikan wahyu yang telah
ditetapkan oleh Tuhan, dan menyatakan Kalimah Allah bahwa pada malam
itu juga beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah, menjadi penerus
risalah para Nabi sebelumnya.
Dalam salah satu hadist yang menceritakan mengenai turunnya wahyu
kepada Nabi Muhammad Saw disebutkan, "Telah datang malaikat Jibril as
kepada Muhammad sambil berkata, "Bacalah!", dengan terkejut dan penuh
ketakutan Muhammad menjawab, "Aku tiada bisa membaca.", Ia berkata
lagi, "Bacalah!", Muhammad kembali menjawab, "Aku tiada bisa membaca",
lalu malaikat memegang tubuh Muhammad dan berseru kembali: "Bacalah !",
Muhammad menjawab : "Apa yang akan saya baca ?", kemudian malaikat
Jibril berkata:
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan.
Dia telah menjadikan manusia dari segumpal darah (’alaq)
Bacalah ! Karena Tuhanmu Yang Maha Mulia !
Yang mengajar dengan Qalam (ilmu pengetahuan)
Mengajar manusia apa yang tiada ia ketahui."
(al-Qur’an Surah Al-Alaq 96 ayat 1-5)
Kejadian Nabi Muhammad Saw mendapatkan wahyu ini telah ternubuat dalam Kitab Yesaya pasal 29:12 :
Dan kitab itu diberikan kepada seorang yang tiada tahu membaca dengan
mengatakan: "Bacalah ini," maka ia akan menjawab: "Aku tiada dapat
membaca."
(Yesaya 29:12)
Dalam satu riwayat yang lain, ketika Nabi Muhammad pertama kali
mendapatkan wahyu dari Allah melalui perantaraan malaikat Jibril dalam
pengasingannya di Gua Hira, dimana pada waktu itu beliau mengadukan hal
ini pada istrinya, Khadijjah yang lantas oleh istri beliau ini
mengkonfirmasikan pula kepada saudara sepupunya yang sebagai seorang
penganut ajaran ‘Isa al-masih, Waroqah bin Naufal.
Disana diriwayatkan Waroqah bin Naufal menyatakan bahwa sesungguhnya
Muhammad telah menerima Namus besar sebagaimana yang pernah diterima
oleh Musa, dan dia merupakan seorang Nabi Allah.
Kata "Namus besar" (an-namus’l-akbar) oleh beberapa penulis
dijaman-jaman berikutnya diberi anotasi, bahwa kata namus berartikan
Jibril. Sementara salah seorang orientalis bernama Montagomey Watt
memberikan catatan bahwa kata namus ini diambil dari bahasa Yunani
yaitu "noms" yang berarti undang-undang atau kitab suci yang diwahyukan.
Waroqah bin Naufal sendiri mengimani akan kenabian Muhammad meski tidak
dalam waktu yang lama karena beliau wafat sebelum Muhammad memulai
seruannya kepada manusia sehingga mendapatkan tantangan, pengusiran,
penyiksaan hingga upaya pembunuhan. (Dikutip dari buku "Sejarah Hidup Muhammad" oleh Muhammad Husain Haekal)
Dipasalnya yang lain, yaitu pasal 42, Jesaya menubuatkan kedatangan laki-laki suci pilihan Tuhan ini sebagai berikut:
"Lihatlah, hamba-Ku yang Kupapah, pilihan-Ku, yang kepadanya Aku
berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan
hukum kepada orang-orang kafir. Ia tidak akan berteriak atau
menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang
patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya
tidak akan dipadamkannya, ia pun akan menyatakan hukum dengan
kebenaran. Ia sendiri tiada akan gagal dan tidak akan patah semangat,
sampai sudah tetapkannya hukum diatas bumi; segala pulau pun akan
mengharapkan pengajarannya." (ayat 1 s.d. 3 dari Jesaya 42)
Tafsirnya :
Bahwa Allah menyeru Muhammad selaku seorang hamba pilihan sebagaimana
juga dalam Surah al-Israa’ (17) ayat 1 Allah menyeru Nabi Muhammad Saw
dengan sebutan hamba dan al-Qur’an surah .al-Baqarah (2) ayat 143
sebagai pilihan-Nya dimana Allah berkenan kepadanya dalam pengertian
memutuskan untuk memilihnya selaku Rasul yang menyeru kebenaran
terhadap orang-orang kafir.
"Katakanlah: "Aku bukanlah Rasul yang
pertama di antara Rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan
diperbuat terhadapku dan tidak terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah
mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah
seorang pemberi peringatan yang memberi penjelasan".
(QS. al-Ahqaaf 46:9)
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya para Rasul."
(QS. Ali Imran 3:144)
Allah telah memilih Muhammad dan membimbingnya kejalan kebenaran yang
diinginkan oleh-Nya, menjauhinya dari segala bentuk peribadatan
jahiliyah, sejak kecil beliau telah disebut oleh masyarakatnya sebagai al-Amin (orang yang terpercaya, orang yang jujur, orang yang benar - dalam Bible disebut juga sebagai Ruh Kebenaran).
Allah telah mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim pada kitab Kejadian 17:18
agar Ismail sajalah yang hidup dihadapan-Nya. Dengan benih dari Ismail
ini Allah akan membersihkan nama-Nya, membesarkan agama-Nya,
melimpahkan karunia dan nikmat-Nya serta seluruh kerajaan-Nya
sebagaimana yang termaktub dalam Matius 21:43 dan Ulangan 32:21.
Sementara Jesus menurut anggapan orang Nasrani adalah anak Allah bahkan
Allah itu sendiri, dan mereka akan gusar apabila kita katakan bahwa
Jesus hanyalah seorang hamba sebagaimana hamba-hamba Allah yang lainnya.
Adapun Allah memberikan roh-Nya kepada sang hamba pilihan pada ayat
diatas adalah sama halnya seperti yang diberikan-Nya kepada seluruh
makhluk ciptaan-Nya sebagaimana terdapat didalam ayat ke-5 dari pasal
yang sama serta yang terdapat pada Kitab Yoel 2:28 :
"Maka kemudian daripada itu akan jadi, bahwa Aku mencurahkan roh-Ku kepada segala manusia."
(Yoel 2:28)
Dan seruan sang hamba pilihan terhadap orang-orang kafir adalah
menyeluruh tanpa dibatasi oleh tempat dan daerah, sesuai dengan misi
kenabian Muhammad Saw selaku Nabi yang universal.
Nabi Muhammad Saw tidak pernah berteriak didalam berdoa kepada Allah
dan juga tidak pernah menyaringkan suaranya didalam memberikan
pengajaran kepada umatnya, bahkan beliau melarang tegas perbuatan
semacam itu sebab hanya akan mengganggu/mengusik orang lain yang
mungkin sedang membutuhkan ketenangan atau konsentrasi terhadap sesuatu
hal lainnya, dan ini bersesuaian dengan ayat ke-2.
"Serulah Tuhanmu dengan berendah
diri dan dengan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas." (QS. 7:55)
"Dan sebutlah Tuhanmu dalam hatimu dengan
merendahkan diri dan takut. Dan janganlah mengeraskan suara pada waktu
pagi dan petang." (QS. 7:205)
"Dan sederhanalah kamu didalam berjalan serta rendahkanlah suaramu. Seburuk-buruknya suara adalah suara keledai." (QS. 31:19)
Dan beberapa ayat-ayat lainnya yang memiliki arti serupa sebagaimana
misalnya termaktub dalam al-Qur’an surah 49/2, 49/3 dan sebagainya.
Dalam nubuatan ini, sama sekali Jesus bukanlah tokoh yang tepat untuk
disertakan sebab dalam banyak pasal dan ayat Bible menceritakan betapa
Jesus berulangkali menyaringkan suaranya, baik ketika beliau berseru
kepada Allah maupun juga didalam pengajarannya kepada manusia.
Yohanes 7:28 :
"Maka berserulah Jesus dengan suara nyaring didalam Bait Allah ketika ia mengajar …"
Matius 27:46
"Kira-kira jam tiga berserulah Jesus dengan suara nyaring…"
Matius 27:50
"Jesus berseru pula dengan suara nyaring…"
Serta banyak lagi ayat-ayat lainnya yang menggambarkan bahwa Jesus
sudah menyaringkan suaranya dan bahkan berteriak kepada Allah dan
manusia didalam berdoa dan berfatwa, bahkan beliau juga tidak melarang
orang yang melakukannya bersama dia sebagaimana didapati dalam riwayat
Lukas 19:37 :
"Ketika Ia dekat Yerusalem, di tempat
jalan menurun dari Bukit Zaitun, mulailah semua murid yang
mengiringinya bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring…"
Ayat diatas selain bertentangan dengan kitab Jesaya pasal 42 ayat 2,
juga bertentangan dengan ayat al-Qur’an surah al-Hujuraat dibawah ini :
"Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah
kamu berkata padanya dengan suara keras …." (QS. al-Hujuraat 49:2)
"Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya
di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati
mereka oleh Allah untuk bertaqwa." (QS. al-Hujuraat 49:3)
Lalu sebagaimana nubuatan Jesaya diatas, perjuangan sang hamba pilihan
didalam menyampaikan risalah Allah kepada manusia tidak akan digagalkan
dan patah semangatnya sampai kebenaran Allah tertegakkan diatas bumi
ini.
Jelas merefer pada diri Nabi Muhammad Saw, beliau telah berhasil dengan
sukses menyampaikan misi kenabiannya kepada manusia, menegakkan suatu
ummat yang adil, beradab serta berTuhan hingga beliau wafat dengan
tenangnya pada hari Senin, 12 Rabi’ul awal tahun ke-11 Hijriah.
Nama besarnya tetap abadi sampai sekarang, bahkan musuh-musuhnya pun
telah menyanjungnya, mengaguminya sebagai orang yang paling sukses
dalam sejarah para Nabi.
"Jika kita mengukur kebesaran dengan pengaruh, dia seorang raksasa
sejarah. Dia berjuang meningkatkan tahap rohaniah dan moral suatu
bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban karena panas dan kegersangan
gurun. Dia berhasil lebih sempurna dari pembaharu manapun; belum pernah
ada orang yang begitu berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya seperti dia,"
tulis Will Durant dalam the Story of Civilization terhadap diri Nabi
Muhammad Saw.
"Dia datang seperti sepercik sinar dari langit, jatuh kepadang pasir
yang tandus, kemudian meledakkan butir-butir debu menjadi mesiu yang
membakar angkasa sejak Delhi sampai ke Granada." Tambah Thomas Carlyle
dalam On Heroes and Hero Worship.
Dengan sejumlah informasi yang mereka miliki, Durant dan Carlyle
berusaha melukiskan kebesaran Rasulullah Saw. Mereka tidak pernah
berjumpa dengan Nabi yang mulia. Mereka tidak pernah melihat wajah atau
mendengar suaranya. Mereka bahkan tidak beriman kepada apa yang dibawa
oleh Nabi Saw. Mereka hanya menyaksikan lewat lembaran-lembaran sejarah
yang mereka teliti.
Muhammad Saw, sebagaimana Nabi-nabi Allah yang lain, datang bukan hanya
sekedar mengajarkan shalat dan doa. Dia adalah tokoh revolusioner yang
memimpin kelompok tertindas melawan kezaliman sistem yang berlaku. Dia
tampil membimbing kaum Mustadh’afin untuk mengubah nasibnya dan
menentang kaum Mustakbirin supaya menghentikan keserakahannya. Karena
itu, dia didukung rakyat kecil dan dibenci kebanyakan penguasa.
Pengakuan terhadap kebesaran dan kesuksesan Nabi Muhammad Saw ini bukan
saja timbul Dikalangan para orientalis, bahkan secara jujur, Prof. K.S.
Rama Krishna Rao, seorang Kepala jurusan Filsafat pada Akademi Kesenian
Maharani, Mysore-India yang beragama Hindhu, didalam bukunya Muhammed
The Prophet of Islam telah menyatakan kekagumannya. (http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/prophet/lifeofprophet.html)
Michael H. Hart pengarang buku "Seratus Tokoh yang paling berpengaruh
dalam sejarah" yang menganut paham Nasrani Trinitas-pun mengakui
kesuksesan Rasulullah Saw dan menempatkannya dalam daftar urutan
pertama tokoh-tokohnya, bahkan melebihi tokoh pujaannya sendiri, Jesus.
Jelas Michael H. Hart bukanlah seorang yang bodoh yang begitu saja
menentukan pilihannya ini. Beliau memiliki gelar DR dalam empat cabang
ilmu, yaitu bidang Matematika (Cornell University 1952), bidang Hukum
(New York University 1958), bidang Kimia (Edelvi University 1968) dan
bidang Angkasa Luar (Princeton University 1972).
Namun apa komentarnya dalam uraian pertama bukunya tersebut ?
"Jatuhnya
pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar seratus
tokoh yang berpengaruh didunia mungkin mengejutkan sementara pembaca
dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tetapi saya berpegang
kepada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad, satu-satunya manusia dalam
sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa, baik ditilik
dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi."
"Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu."(QS. al-Ahzaab 33:21)
Sejarah juga membuktikan, Jesus memang tidak sukses didalam
menyampaikan syiar Allah kepada umatnya, Bani Israil. Bahkan secara
mengenaskan didalam Bible digambarkan perjuangan Jesus justru harus
tergagalkan diatas kayu salib setelah sekian lama beliau dikejar-kejar
dan hendak dibunuh oleh musuh-musuhnya.
Jadi sekali lagi jelas bahwa nubuat ini tidak tertuju kepada Jesus namun lebih tepat terhadap diri Nabi Muhammad Saw.
"Beginilah firman Allah, TUHAN, yang menciptakan langit dan
membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di
atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya
dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya". (Ayat 5)
"Aku inilah TUHAN yang telah memanggil engkau dengan
kebenaran, telah memegang tanganmu; Aku memeliharakan engkau dan
mengaruniakan engkau perjanjian kepada umat itu sebagai cahaya bagi
orang-orang kafir. Untuk membuka mata orang yang buta, untuk
mengeluarkan orang yang terbelenggu dalam penjara dan orang yang duduk
dalam gelap-pun engkau keluarkan dari kurungan."
(Ayat 6 s.d 7)
Bahwa Allah telah memanggil Nabi Muhammad Saw dengan kebenaran, yaitu
Allah telah mengirimkan wahyu kepadanya untuk menyatakan segala yang
haq dan membatalkan hal yang bathil.
"Aku inilah Allah, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan
kemuliaan-Ku kepada yang lain atau pujian-Ku kepada berhala.
Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan, hal-hal
yang baru hendak Kuberitahukan. Sebelum hal-hal itu muncul, Aku
mengabarkannya kepadamu." (Ayat 8 s.d 9)
Bahwa Nabi Muhammad Saw menyerukan orang agar tidak menyembah kepada
Tuhan-tuhan yang lain selain daripada Allah yang berdiri dengan
sendiri, tidak beranak dan tidak diperanakkan dalam arti apapun serta
tiada yang dapat menandingi-Nya.
"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi!
Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan
segala penduduknya. Hendaklah padang gurun dan segala negrinya
menyaringkan suaranya, demikian pula seluruh desa yang didiami
orang-orang Kedar" (ayat 10 s.d 11)
Disini disebutkan lagi nama Kedar, yaitu nenek moyang dari Nabi
Muhammad Saw yang terlahir sebagai putra kedua Nabi Ibrahim as (lihat
artikel : Tafsir Kitab Kejadian). Dan sekali lagi ini tidak dapat diterapkan terhadap diri Jesus atau Nabi-nabi yang lainnya dari Bani Israil.
Bahwa Allah melalui Nabi Muhammad Saw akan menyatukan seluruh Tanah
Arabia, menyatukan seluruh keturunan Kedar, mempersatukan seluruh
generasi Ibrahim as, bersama dengan seluruh umat manusia dari seantero
dunia dalam rangkaian ibadah Haji dirumah Allah, Ka’bah, Mekkah
al-Mukarromah sebagaimana terdapat dalam nubuat Jesaya pasal 60 ayat
ke-7:
"Segala domba Kedar
dikumpulkan kepadamu, segala domba jantan Nebayot dihantar akan gunamu,
sekalian itu naik keatas mezbah-Ku, dipersembahkan dengan keridhoan
hati, maka rumah-Ku yang mulia itu (Ka’bah) akan Ku permuliakan pula."
Penafsiran Ka’bah sebagai rumah Allah yang terdapat dalam Jesaya 60:7
diatas kita sandarkan sendiri terhadap ayat Bible ke-11 dalam pasal
yang sama :
"Maka segala pintu gerbangmu pun akan
terbuka selalu, baik siang malam tiada ia itu ditutup, supaya dibawa
masuk kepadamu akan tentara orang-orang kafir dan segala rajanya pun
diantar."
Ayat ke-11 ini kita tafsirkan sesuai kenyataan
yang berlaku dihadapan kita, bahwa kota Mekkah al-Mukarromah dimana
Ka’bah sebagai Rumah Allah senantiasa terbuka untuk orang-orang yang
ingin melakukan ibadah kepada Allah, untuk orang-orang yang sadar dari
segala kekafirannya, baik tua, muda, besar, kecil, rakyat hingga raja
tanpa membedakan ras, suku, golongan maupun pangkat kedudukan duniawiah
mereka.
Seluruhnya bercampur menjadi satu umat dihadapan Allah, sebab Allah
tidak akan menilai semuanya itu kecuali taqwa mereka kepada-Nya.
"Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang
yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertaqwa di antara kamu."
(QS. al-Hujuraat 49:13)
"Dan ketika Kami menjadikan rumah itu (yaitu Ka’bah) tempat berkumpul bagi manusia …"
(QS. Al-Baqarah 2:125)
"Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia…"
(QS. Al-Ma’idah 5:97)
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan
haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan
berkendaraan yang datang dari segenap penjuru yang jauh."
(QS. 22:27)
Kemudian pada awal pasal Jesaya 42:10 disebutkan "Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN…"
Suatu lagu baru adalah merupakan senandung doa pujian kepada Allah dalam bentuknya yang lain. Dalam hal ini "bentuk yang lain" yang dimaksudkan merefer pada kitab Jesaya pasal 28: 11 serta kitab Zefania pasal 3:9
"Maka sebab itu Dia pun akan berfirman kepada bangsa ini dengan logat yang asing dan dengan bahasa yang lain." (Jesaya 28:11)
"Tetapi pada masa itu Aku akan mengaruniakan kepada
semua bangsa lidah yang suci; supaya mereka itu sekalian menyebut nama
Tuhan. Melayani-Nya dalam satu persamaan." (Zefania 3:9)
Dengan demikian, "Nyanyian baru bagi Tuhan" yang dimaksud oleh Jesaya 42:10
ini adalah doa dan pujian yang berasal dengan logat dan bahasa yang
lain daripada sebelumnya yaitu diluar dari bahasa Arami maupun Ibrani
yaitu bahasa Arab, pada saat umat Islam diseluruh dunia berseru kepada
Tuhan, pada saat sholat, berhaji dan pada saat mereka saling
mengucapkan salam sebagai satu bahasa kesatuan dan persatuan hidup dan
kehidupan beragama sebagaimana isi ayat terakhir dari Zefania pasal 3:9 "… melayani-Nya dalam satu persamaan."
"Hendaklah semua orang yang duduk dibukit batu itu bernyanyi,
biarkanlah mereka berseru-seru dari puncak bukit. Biarkanlah mereka
memberikan pujian kepada TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya
di pulau-pulau. TUHAN keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang
perang Ia membangkitkan semangat-Nya untuk bertempur; Ia bertempik
sorak, ya, Ia memekik, terhadap musuh-musuh-Nya Ia membuktikan
kepahlawanan-Nya."
(Ayat 12 s.d. 13)
Dari bukit Arafah dekat kota Mekkah, para Jemaah Haji dari seluruh
pulau didunia ini setiap tahunnya datang berkumpul bersama dan berseru:
Labbaykallahumma Labbayk
Labbayka laa syariikalaka labbayk
Innal hamda wan ni’mata laka walmulk
La syariikalaka
Yang artinya :
Aku sambut panggilanmu, Ya Allah; Aku sambut panggilan-Mu;
Aku sambut panggilan-Mu, Tiada sekutu bagi-Mu;
Aku sambut panggilan-Mu; Sesungguhnya segala puji dan kenikmatan serta segenap kekuatan adalah milik-Mu, Tiada sekutu bagi-Mu."
Allah telah menunjukkan kekuasaan-Nya, mengalahkan semua dakwah
keberhalaan manusia, memenangkan risalah para Nabi-Nya dari seluruh
kejahatan, membuktikan kebesaran-Nya dihadapan para musuh-Nya.
"Karena sesungguhnya kegelapan menudungi bumi dan dalam kelam kabut
menudungi segala bangsa, sementara Tuhan telah terbit atas kamu dan
kemuliaan-Nya pun bersinar kepadamu. Maka segala orang kafir pun akan
datang kepada terangmu dan segala raja-raja pun kepada cahaya yang
sudah terbit bagi kamu" (Jesaya 60:2-3)
Begitulah Tafsir dari satu nubuat yang sangat jelas sekali dalam Kitab
Jesaya akan kehadiran Rasulullah Muhammad Saw. Dan Sebagai akhir dari
pemaparan Tafsir Kitab Jesaya ini, perkenankan pula saya mengambil
persamaan akan satu ayat dalam Kitab Jesaya dengan satu ayat dari
al-Qur’an :
"Bangunlah engkau, nyatakanlah cahayamu, karena terangmu ada datang dan kemuliaan Tuhan terbitlah atas kamu."
(Jesaya 60:1)
"Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan, dan Tuhanmu, agungkanlah."
(QS. al-Mudattsir 74:1-3)
"Kebenaran itu adalah dari Tuhan-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu."
(QS. Al-Baqarah 2:147)